Lumajang, – Di tengah tren pertanian modern, nama Arif Hermawan mulai dikenal sebagai salah satu pelaku usaha hidroponik yang sukses di Kabupaten Lumajang.
Di usia 28 tahun, ia mampu membuktikan bahwa bertani tidak harus selalu identik dengan lumpur dan sawah luas.
Di lahan berukuran 18 x 22 meter, Arif kini memanen lebih dari 7 kuintal selada setiap 40 hari. Angka itu bukan sekadar produksi, tetapi juga simbol perjalanan panjang penuh jatuh bangun.
“Karena pesanan tambah banyak, akhirnya saya putuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan fokus ke hidroponik,” katanya, Jumat (23/4/2026).
Empat tahun lalu, semua bermula dari kegagalan sederhana menggunakan botol bekas. Namun kegagalan itu justru menjadi pijakan untuk belajar lebih dalam.
Dengan latar belakang pendidikan ekonomi syariah, Arif tidak memiliki bekal teknis di bidang pertanian. Ia mengandalkan internet, seminar, dan eksperimen langsung sebagai guru utamanya.
Perjalanan tersebut membawanya pada sistem hidroponik yang lebih matang. Dari 340 lubang tanam di loteng rumah, berkembang menjadi ribuan lubang di lahan yang lebih luas.
Kini, omzet yang ia raih mencapai sekitar Rp 21 juta per panen, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 15 juta. Permintaan pasar yang terus meningkat bahkan membuatnya kewalahan memenuhi pesanan.
“Sekarang kami justru kekurangan bahan baku karena saking banyaknya pesanan yang masuk,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis turut menjadi faktor pendorong meningkatnya kebutuhan sayuran segar. Dalam kondisi ini, Arif melihat peluang sekaligus tantangan besar.
Namun di balik keberhasilan finansial, Arif tetap memegang prinsip berbagi. Ia aktif membina mitra dan mendorong mereka untuk mandiri.
“Saya ingin mereka besar karena kemampuan mereka sendiri,” katanya.
Tinggalkan Balasan