DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Nasional · 24 Nov 2025 07:26 WIB ·

DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian


 DPRD Lumajang Dampingi Warga Terdampak, Ratih Damayanti Jadi Teman Curhat Nenek Martini di Posko Pengungsian Perbesar

Lumajang, – Di tengah duka yang melanda warga terdampak erupsi Gunung Semeru, anggota Komisi D DPRD Lumajang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ratih Damayanti, hadir langsung ke posko pengungsian untuk memberikan dukungan moral. Salah satunya kepada Martini, nenek sebatang kara yang kehilangan seluruh rumahnya akibat bencana.

Kesedihan mendalam masih dirasakan para pengungsi erupsi Gunung Semeru di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Salah satunya dialami Martini, seorang nenek sebatang kara yang rumahnya hancur total akibat erupsi pada Kamis (19/11/2025).

Rumah sederhana yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh kini tinggal puing. Dapur tempatnya memasak dan kamar kecil tempat ia beristirahat ikut ambruk. Meski kehilangan segalanya, Martini tetap terlihat tenang. Kendati tanpa air mata, duka yang ia pendam tak dapat disembunyikan.

“Iya, semuanya rusak,” ujarnya lirih saat berbincang dengan anggota Komisi D DPRD Lumajang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ratih Damayanti, di posko pengungsian pada Minggu (23/11/2025).

Ratih mendengarkan setiap cerita Martini dengan penuh empati. Ia mencoba menghibur dan menjadi tempat mengadu bagi nenek yang kini harus memulai hidup dari nol di usia senjanya.

“Semua yang diceritakan oleh Ibu Martini benar-benar membuat kami bersedih. Meski rumahnya hancur, bagi saya beliau adalah panutan. Di usianya yang sudah tua, ia masih kuat dan mencoba untuk tetap bersabar,” ucap Ratih.

Martini sudah tiga hari berada di posko pengungsian. Di lokasi sementara itulah ia mencoba bertahan, meski pikirannya terus tertuju pada rumahnya yang telah rata dengan tanah.

Pada usia yang seharusnya menjadi masa tenang, ia justru harus menghadapi kenyataan pahit, hidup sebatang kara tanpa rumah dan tanpa kepastian kapan kehidupan bisa kembali seperti dulu.

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perhotelan Malang Siap Sambut 100 Ribu Jemaah NU, Tarif Tetap Stabil

3 Februari 2026 - 15:57 WIB

Erupsi Semeru Picu Hujan Abu di Senduro, Warga Keluhkan Aktivitas Harian Terganggu

3 Februari 2026 - 15:07 WIB

Jalan Rusak Tergerus Lahar, Warga Lumajang Terpaksa Lewati Area Persawahan

3 Februari 2026 - 13:50 WIB

Berpacu dengan Ancaman Lahar, Perbaikan Tanggul Sungai Regoyo Dikebut

3 Februari 2026 - 13:33 WIB

Gunung Semeru Tertutup Kabut, Aktivitas Vulkanik Level III Tetap Siaga

1 Februari 2026 - 11:45 WIB

Hadapi Ancaman Tahunan Semeru, Lumajang Siapkan Generasi Tangguh Bencana

30 Januari 2026 - 08:06 WIB

Trending di Nasional