Dua Tarif, Dua Daerah, Satu Wisata: Ketidakjelasan Pengelolaan Tumpak Sewu Butuh Regulasi Tegas dan Tertulis - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Pariwisata · 19 Jun 2025 14:55 WIB ·

Dua Tarif, Dua Daerah, Satu Wisata: Ketidakjelasan Pengelolaan Tumpak Sewu Butuh Regulasi Tegas dan Tertulis


 Dua Tarif, Dua Daerah, Satu Wisata: Ketidakjelasan Pengelolaan Tumpak Sewu Butuh Regulasi Tegas dan Tertulis Perbesar

Lumajang, – Keindahan air terjun Tumpak Sewu yang memikat wisatawan kini ternoda oleh masalah serius dalam pengelolaan tarif tiket masuk.

Perbedaan tarif antara Lumajang dan Malang yang hanya berdasarkan kesepakatan lisan antar kepala daerah menimbulkan kebingungan, ketidakadilan, dan berpotensi menurunkan jumlah pengunjung.

Kondisi ini menuntut adanya regulasi tertulis yang jelas dan mengikat agar pengelolaan wisata ini dapat berjalan transparan dan berkelanjutan.

Anggota Komisi B DPRD Lumajang, Junaidi, mengungkapkan bahwa saat ini tarif tiket masuk Tumpak Sewu di Lumajang adalah Rp100.000 per orang. Namun sebelumnya, tarif ini sempat melonjak menjadi Rp150.000 akibat adanya pungutan di wilayah bawah air terjun yang masuk dalam kawasan Malang.

Akibatnya, wisatawan harus membayar dua kali, yakni Rp100.000 di Lumajang dan Rp150.000 di Malang, total mencapai Rp250.000.

“Ini jelas membebani pengunjung dan berpotensi menurunkan minat wisatawan,” ujar Junaidi.

Hal itu mengalami perubahan, setelah kunjungan Bupati Lumajang ke Malang, disepakati bahwa pungutan di wilayah bawah air terjun tidak diperbolehkan karena masuk ranah Sumber Daya Air (SDA). Sesuai aturan, dalam radius 50 meter dari badan sungai tidak boleh ada pungutan liar.

“Sementara itu, Lumajang juga memungut tiket Rp100.000 yang dibagi antara dua pengelola, Tumpak Sewu 1 dan Tumpak Sewu 2, masing-masing sekitar 50%,” ungkapnya.

Masalah utama yang muncul adalah ketergantungan pada kesepakatan lisan antara Bupati Lumajang dan Bupati Malang. Kesepakatan semacam ini sangat rentan menimbulkan konflik dan ketidakjelasan pengelolaan.

“Harusnya kesepakatan ini lebih kuat diintensifkan dengan kesepakatan tertulis yang mengikat secara hukum,” tegas Junaidi.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wisata Sungai Glidik Tak Bisa Sembarangan, Izin Gubernur Jadi Kunci

13 Februari 2026 - 10:55 WIB

Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen

2 Februari 2026 - 09:10 WIB

DPRD Lumajang Ungkap Kesepakatan Lama Pengelolaan Tumpak Sewu dan Coban Sewu

1 Februari 2026 - 10:07 WIB

Tarik Tiket di Dasar Sungai Bisa Berujung Pidana, Ini Peringatan Pemkab Lumajang

29 Januari 2026 - 16:17 WIB

Langgar Perda Pengelolaan Sungai, Aktivitas Wisata Coban Sewu Terancam Sanksi

29 Januari 2026 - 10:03 WIB

Abaikan Peringatan, Pengelola Coban Sewu Terancam Kehilangan Izin

29 Januari 2026 - 09:57 WIB

Trending di Pariwisata