Jejak Singowiguno: Dari Rumah Keluarga ke Usulan Situs Cagar Budaya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Pendidikan · 17 Agu 2025 16:59 WIB ·

Jejak Singowiguno: Dari Rumah Keluarga ke Usulan Situs Cagar Budaya


 Jejak Singowiguno: Dari Rumah Keluarga ke Usulan Situs Cagar Budaya Perbesar

Lumajang, – Pemerintah Kecamatan Kedungjajang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang tengah mengupayakan penetapan rumah dan makam Raden Mas Singowiguno di Desa Curah Petung sebagai situs cagar budaya.

Upaya ini merupakan bagian dari gerakan pelestarian sejarah lokal yang bersumber dari tokoh-tokoh penting di masa lalu.

Raden Mas Singowiguno dikenal sebagai Wodono atau kepala kawedanan Kedungjajang di masa pemerintahan kolonial Belanda, yang menjabat antara tahun 1890 hingga 1920.

Sosoknya dikenang sebagai birokrat tangguh dan teladan, yang berasal dari Desa Curahpetung di mana rumah tinggal dan makamnya masih berdiri hingga saat ini.

Camat Kedungjajang, Samsul Nurul Huda, menjelaskan inisiatif ini muncul sebagai bagian dari langkah untuk menghargai jasa-jasa para tokoh lokal dan memperkenalkan kembali nilai sejarah kepada generasi muda.

Baca juga: Pengadaan Ambulance Masuk Proyek Strategis Daerah Lumajang 2025

“Kami baru mengetahui pada tahun 2024 bahwa tokoh besar seperti Raden Mas Singowikuno dimakamkan di wilayah kami. Sejak saat itu, kami merasa ini bukan hanya aset sejarah, tapi juga identitas yang perlu dilestarikan,” jelas Samsul, Minggu (17/8/25).

Pihak keluarga, menurutnya, telah mengikhlaskan rumah peninggalan Singowiguno untuk dijadikan situs sejarah. Saat ini, proses verifikasi dan pendataan tengah berlangsung oleh OPD terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kajian akademis dan administratif diperlukan agar penetapan status cagar budaya bisa dilakukan sesuai prosedur.

“Kami berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan penelitian lebih dalam, memastikan kelengkapan data sejarah, dan menyiapkan pengajuan formal ke pemerintah kabupaten dan provinsi,” tambah Samsul.

Baca juga: Sebanyak 46 PMI Asal Lumajang Bermasalah

Langkah ini memperkuat identitas dan narasi sejarah lokal di tengah modernisasi yang cepat.

Samsul berharap bahwa situs ini ke depan tidak hanya menjadi monumen diam, melainkan juga menjadi sarana edukasi, destinasi wisata sejarah, dan bagian dari penguatan budaya di Lumajang.

“Bukan hanya bangunan dan makam yang ingin kami jaga, tetapi nilai-nilai perjuangan, semangat pengabdian, dan dedikasi beliau untuk masyarakat. Inilah yang kami harap bisa menjadi inspirasi bagi generasi hari ini,” tegasnya.

Artikel ini telah dibaca 79 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sedekah Desa Wonokerto Lumajang Hadirkan Jaran Kencak hingga Bantengan dan 5.000 Porsi Tape Ketan

16 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Tak Sekadar Buka Rekening, Bupati Lumajang Ingin Menabung Jadi Budaya Pelajar

11 Agustus 2026 - 15:48 WIB

Kuota Beasiswa Lumajang Direncanakan Maksimal 100 Mahasiswa

30 Juli 2026 - 15:53 WIB

20 Mahasiswa Gugur, Pemkab Lumajang Salurkan Beasiswa kepada 114 Penerima

30 Juli 2026 - 11:52 WIB

Bupati Lumajang Wanti-wanti Sekolah Cegah Narkoba, Miras, dan Bullying

27 Juli 2026 - 11:29 WIB

Pemkab Lumajang Siapkan Beasiswa Rp6 Juta per Semester, Tambah Kuota 100 Mahasiswa

16 Juli 2026 - 10:33 WIB

Trending di Pendidikan