Lumajang, – Pagi hari, aktivitas di sebuah lapak sederhana di pertigaan Jalan Dr. Sutomo, Tompokersan, Lumajang, mulai berjalan.
Nanik dan suaminya, Gombloh, bersiap menerima pelanggan yang datang untuk memperbaiki sepatu.
Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Mereka membuka lapak mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.
Bagi Nanik, pekerjaan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Usaha jahit sepatu itu merupakan warisan dari orang tuanya yang berasal dari Magetan. Sekitar 1946, orang tuanya pindah ke Lumajang dan membuka usaha tersebut.
Nanik kecil kemudian terbiasa membantu. Setelah lulus SMP, ia mulai ikut meneruskan usaha keluarga.
Kini, salah satu kakinya telah diamputasi akibat diabetes. Namun, keterbatasan fisik tidak membuatnya berhenti bekerja.
Bersama Gombloh, pria asal Sidoarjo, Nanik tetap mempertahankan usaha yang telah berjalan selama puluhan tahun.
“Kalau bukanya kami tiap hari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, nggak pernah libur,” kata Nanik, Rabu (26/8/2026).
Momentum Agustusan menjadi salah satu periode ketika lapak mereka semakin ramai.
Warga datang membawa sepatu untuk keperluan upacara, karnaval maupun lomba baris-berbaris.
Sepatu lama yang solnya mulai lepas biasanya diperkuat kembali. Ada pula sepatu baru yang sengaja dijahit agar lebih siap digunakan.
Tahun lalu, Nanik mengaku pernah mendapatkan pesanan menjahit sekitar 90 pasang sepatu baru untuk pasukan pengibar bendera.
“Kalau tahun lalu malah pernah dapat order menjahit 90-an sepatu baru untuk dipakai pasukan pengibar bendera,” imbuhnya.
Di samping lapak, Nanik dan Gombloh juga membuka warung kecil. Warga yang menunggu sepatu dapat menikmati kopi atau teh.
Ada pula sepatu yang sudah selesai diperbaiki tetapi tidak kunjung diambil pemiliknya.
“Jangan ditanya kalau ada sepatu yang nggak diambil pemiliknya, itu numpuk di belakang kadang beberapa bulan sekali kami buang,” ujarnya.
Bagi Nanik, pekerjaan ini bukan hanya soal mempertahankan penghasilan.
Ada keterampilan yang telah diwariskan keluarganya sejak awal masa kemerdekaan dan hingga kini masih ia pertahankan.
Keterbatasan fisik tidak menghapus semangatnya untuk bekerja. Di lapak kecil tersebut, Nanik terus menjahit, satu demi satu, sembari menjaga usaha keluarga yang telah melewati banyak perubahan zaman.
Tinggalkan Balasan