Kaki Tak Lagi Utuh, Semangat Tak Pernah Patah: Nanik Menjaga Usaha Warisan Sejak 1946 - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 26 Agu 2026 17:57 WIB ·

Kaki Tak Lagi Utuh, Semangat Tak Pernah Patah: Nanik Menjaga Usaha Warisan Sejak 1946


 Kaki Tak Lagi Utuh, Semangat Tak Pernah Patah: Nanik Menjaga Usaha Warisan Sejak 1946 Perbesar

Lumajang, – Pagi hari, aktivitas di sebuah lapak sederhana di pertigaan Jalan Dr. Sutomo, Tompokersan, Lumajang, mulai berjalan.

Nanik dan suaminya, Gombloh, bersiap menerima pelanggan yang datang untuk memperbaiki sepatu.

Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Mereka membuka lapak mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.

Bagi Nanik, pekerjaan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.

Usaha jahit sepatu itu merupakan warisan dari orang tuanya yang berasal dari Magetan. Sekitar 1946, orang tuanya pindah ke Lumajang dan membuka usaha tersebut.

Nanik kecil kemudian terbiasa membantu. Setelah lulus SMP, ia mulai ikut meneruskan usaha keluarga.

Kini, salah satu kakinya telah diamputasi akibat diabetes. Namun, keterbatasan fisik tidak membuatnya berhenti bekerja.

Bersama Gombloh, pria asal Sidoarjo, Nanik tetap mempertahankan usaha yang telah berjalan selama puluhan tahun.

“Kalau bukanya kami tiap hari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, nggak pernah libur,” kata Nanik, Rabu (26/8/2026).

Momentum Agustusan menjadi salah satu periode ketika lapak mereka semakin ramai.
Warga datang membawa sepatu untuk keperluan upacara, karnaval maupun lomba baris-berbaris.

Sepatu lama yang solnya mulai lepas biasanya diperkuat kembali. Ada pula sepatu baru yang sengaja dijahit agar lebih siap digunakan.

Tahun lalu, Nanik mengaku pernah mendapatkan pesanan menjahit sekitar 90 pasang sepatu baru untuk pasukan pengibar bendera.

“Kalau tahun lalu malah pernah dapat order menjahit 90-an sepatu baru untuk dipakai pasukan pengibar bendera,” imbuhnya.

Di samping lapak, Nanik dan Gombloh juga membuka warung kecil. Warga yang menunggu sepatu dapat menikmati kopi atau teh.

Ada pula sepatu yang sudah selesai diperbaiki tetapi tidak kunjung diambil pemiliknya.

“Jangan ditanya kalau ada sepatu yang nggak diambil pemiliknya, itu numpuk di belakang kadang beberapa bulan sekali kami buang,” ujarnya.

Bagi Nanik, pekerjaan ini bukan hanya soal mempertahankan penghasilan.

Ada keterampilan yang telah diwariskan keluarganya sejak awal masa kemerdekaan dan hingga kini masih ia pertahankan.

Keterbatasan fisik tidak menghapus semangatnya untuk bekerja. Di lapak kecil tersebut, Nanik terus menjahit, satu demi satu, sembari menjaga usaha keluarga yang telah melewati banyak perubahan zaman.

Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kepala Desa Kandangtepus Sebut Karnaval Jadi Peluang bagi Pelaku UMKM

10 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Karnaval Kandangtepus Lumajang Sajikan Tarian Tradisional dari Sabang hingga Merauke

10 Oktober 2026 - 17:45 WIB

Bupati Sebut Bonus Asian Games, Emas Rp50 Juta dan Perunggu Rp30 Juta

9 Oktober 2026 - 13:51 WIB

Peringati HUT ke-54, Desa Jatigono Lumajang Gelar Pawai dan Grebeg Gunungan

9 Oktober 2026 - 10:33 WIB

Truk Hino Tanpa STNK dan SIM Terlibat Kecelakaan di Candipuro Lumajang

8 Oktober 2026 - 20:40 WIB

Wabup Lumajang Dorong Masjid Nurul Huda Jadi Pusat Pendidikan Al-Qur’an Anak

8 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Trending di Daerah