Program Ada, Pendampingan Nihil, 283 Hektare Pisang Tanpa Arah - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

Daerah · 20 Apr 2026 14:31 WIB ·

Program Ada, Pendampingan Nihil, 283 Hektare Pisang Tanpa Arah


 Program Ada, Pendampingan Nihil, 283 Hektare Pisang Tanpa Arah Perbesar

Lumajang, – Program perhutanan sosial kerap diposisikan sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Namun di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, implementasinya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan di lapangan.

Di atas lahan sekitar 283 hektare yang telah ditanami pisang, aktivitas budidaya berlangsung tanpa arah yang jelas. Tidak ada pola pembinaan terpadu, tidak ada standar kualitas yang diterapkan secara konsisten, dan yang paling mendasar, minim pendampingan teknis dari instansi terkait.
Petani berjalan dengan pengetahuan seadanya.

“Selama ini tidak ada pendampingan. Kami masih pakai cara tradisional,” kata Sofyan, salah satu petani di desa tersebut, Senin (20/4/2026).

Metode budidaya yang digunakan sebagian besar masih mengandalkan pengalaman turun-temurun. Perawatan tanaman dilakukan tanpa standar baku, mulai dari pemupukan hingga pengendalian hama dan kualitas buah.

Akibatnya, hasil panen sulit memenuhi kriteria pasar modern yang mensyaratkan kualitas seragam dan tampilan fisik yang prima.

Padahal, di saat yang sama, pemerintah daerah mendorong peningkatan kualitas melalui standar budidaya seperti Good Agricultural Practices (GAP).

“Tanpa pendampingan, standar itu justru menjadi sesuatu yang jauh dari jangkauan petani,” katanya.

Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan antara kebijakan di atas kertas dan realitas di lapangan.

Program ada, lahan tersedia, produksi berjalan. Namun rantai nilai yang seharusnya menghubungkan petani dengan pasar belum terbentuk.

Sofyan mengaku, petani di wilayahnya sebenarnya memiliki keinginan untuk berkembang. Mereka berharap hasil panen bisa masuk ke pasar yang lebih besar, termasuk kebutuhan industri atau program skala luas. Namun keterbatasan pengetahuan dan akses membuat harapan itu sulit terwujud.

“Kami ingin bisa masuk pasar besar, tapi tidak tahu caranya,” ujarnya.

Tanpa intervensi serius, potensi 283 hektare lahan tersebut berisiko hanya menjadi sentra produksi tanpa nilai tambah.

“Ketika panen dalam jumlah besar, dijual dengan harga rendah karena tidak memenuhi standar kualitas dan tidak memiliki akses distribusi yang memadai,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Sumberlangsep Kembali Terisolasi akibat Banjir Lahar Lahar Hujan Gunung Semeru

2 November 2026 - 12:30 WIB

Bunda Indah Dorong Pariwisata Lumajang Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Usaha Warga

31 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Lumajang Raih Wilwatikta Awards 2026, Bunda Indah Jadikan Penghargaan Motivasi Perkuat Ekonomi

31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Pronojiwo Kembangkan Agrowisata 3 Hektare, Wisatawan Tumpak Sewu Bakal Punya Pilihan Baru

31 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Cegah Stunting di Lumajang, Dinkes P2KB Perkuat Peran Posyandu dan Kolaborasi Desa

31 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Bunda Indah Salurkan BLT DBHCHT 2026, Sebanyak 4.293 Warga Lumajang Terima Alokasi Rp600 Ribu

31 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Trending di Daerah