Stunting Tinggi, Legislator Patungan, Inisiatif Sosial yang Menagih Tanggung Jawab Pemerintah - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Kesehatan dan Olah Raga · 9 Jan 2026 13:01 WIB ·

Stunting Tinggi, Legislator Patungan, Inisiatif Sosial yang Menagih Tanggung Jawab Pemerintah


 Stunting Tinggi, Legislator Patungan, Inisiatif Sosial yang Menagih Tanggung Jawab Pemerintah Perbesar

Jember, – Angka stunting di Kabupaten Jember masih tinggi, mencapai 30,3 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Artinya, tiga dari sepuluh balita di kabupaten ini mengalami gangguan tumbuh kembang. Di tengah kondisi itu, delapan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember mengambil inisiatif patungan dana untuk membantu keluarga yang terdampak, sebuah langkah yang sekaligus menegaskan perlunya peran pemerintah lebih serius dan terukur.

Program sosial yang digagas legislator ini berbasis dukungan lokal. Masing-masing anggota fraksi menggandeng toko kelontong di wilayah sasaran dan menyalurkan suplai telur sebagai sumber protein bagi anak yang rawan stunting. Dengan modal Rp150.000, setiap toko kelontong bertanggung jawab menyediakan telur selama lima hingga tujuh hari untuk keluarga stunting.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember, Edi Cahyo Purnomo, menjelaskan tujuan program ini. “Suplai protein berupa telur diharapkan bisa membantu anak yang terindikasi atau rawan stunting untuk bertambah berat badannya secara bertahap,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).

Lebih dari sekadar distribusi, para legislator juga memantau perkembangan anak beberapa bulan setelah intervensi. Pemantauan dilakukan melalui posyandu untuk memastikan adanya perubahan berat badan.

“Kita pantau terus berat tubuh anak yang kemarin mengalami stunting. Alhamdulillah, terakhir kami lihat ada kenaikan,” kata Edi.

Meski begitu, Edi menegaskan program fraksi bukan pengganti tanggung jawab pemerintah daerah. Langkah ini justru dimaksudkan sebagai dorongan moral dan tekanan politik agar pemerintah lebih aktif dan terukur dalam menangani stunting.
“Kami mendorong agar hal ini bisa dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember,” imbuhnya.

Program ini juga berdampak pada ekonomi lokal. Toko kelontong yang terlibat mendapat tambahan perputaran usaha selama distribusi telur berlangsung, menunjukkan bahwa intervensi sosial dapat bersinergi dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Tanpa intervensi yang menyeluruh dan terencana, angka stunting di Jember berisiko tetap tinggi, bahkan ketika upaya mikro seperti patungan legislatif dilakukan.

“Program ini hanya menambal kekurangan, tapi tanggung jawab utama tetap ada pada pemerintah,” tegas Edi.

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dokter: Luka Bakar di Atas 40 Persen Sudah Berbahaya, Korban Semeru Capai 80 Persen

20 Juni 2026 - 14:32 WIB

Anggaran BPJS Kesehatan Lumajang 2026 Masih Kurang Rp1,2 Miliar

29 Mei 2026 - 11:13 WIB

DPRD PDI Perjuangan Lumajang Serap Aspirasi Warga Terkait Layanan BPJS

25 Mei 2026 - 21:48 WIB

Puluhan Anak Terindikasi Kelainan Jantung, RS Siti Khodijah Lakukan Jemput Bola di Lumajang

23 Mei 2026 - 15:49 WIB

Bupati Lumajang Gandeng AMS dan Rumah Sakit untuk Deteksi Dini Kelainan Jantung Anak

23 Mei 2026 - 15:42 WIB

Legislator PDIP Lumajang Siapkan Pendampingan Warga Berobat hingga Transportasi Gratis

17 Mei 2026 - 19:07 WIB

Trending di Kesehatan dan Olah Raga