Malang, – Upaya bunuh diri kembali melibatkan kalangan mahasiswa di Kota Malang. Seorang mahasiswi berinisial TA (25) dilaporkan melompat dari Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) pada Senin (19/1/2026) dini hari.
Peristiwa ini menambah deretan kasus serupa dan menegaskan alarm krisis kesehatan mental di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan tersebut.
Korban ditemukan di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter, tepatnya di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru.
Meski mengalami patah tulang pada tangan kanan, korban masih dalam kondisi bernapas dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan medis.
Kepala Polsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta, membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, korban sempat terlihat mondar-mandir dengan gelagat gelisah di sekitar jembatan sebelum akhirnya terjatuh sekitar pukul 00.30 WIB.
“Saksi pengemudi ojek daring melihat korban terjatuh dari atas jembatan dan segera melaporkan ke polisi serta relawan. Petugas langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit,” katanya, Minggu (25/1/2026).
Dari hasil penelusuran, motif percobaan bunuh diri ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan akademik. Beberapa jam sebelum kejadian, korban mengirimkan pesan kepada adiknya yang berisi permintaan maaf karena merasa telah merepotkan keluarga, terutama terkait skripsi yang belum terselesaikan.
Kasus TA bukan peristiwa tunggal. Jembatan Soekarno-Hatta dan Jembatan Tunggulmas tercatat berulang kali menjadi lokasi percobaan maupun aksi bunuh diri mahasiswa.
Pada November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal di Jembatan Suhat. Sementara pada Juli 2024, mahasiswa lain berinisial AHM (19) selamat setelah mencoba mengakhiri hidup di lokasi yang sama.
Rentetan serupa juga terjadi di Jembatan Tunggulmas. April 2025, mahasiswa BGS (20) asal Jakarta Timur ditemukan meninggal, disusul sebulan kemudian oleh perempuan muda berinisial A (20).
Kompol Anang memetakan sejumlah faktor dominan yang melatarbelakangi kasus-kasus tersebut.
“Motif yang sering muncul antara lain kuliah yang tidak kunjung selesai, ancaman drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik keluarga, hingga jeratan pinjaman daring,” jelasnya.
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menilai fenomena ini sebagai dampak tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, tuntutan akademik yang tinggi kerap tidak diimbangi dengan dukungan emosional yang memadai.
“Ekspektasi keluarga sering kali sangat besar karena biaya kuliah yang mahal. Nilai menjadi tolok ukur utama, sementara proses dan kondisi psikologis mahasiswa kerap terabaikan,” kata Luluk.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menegaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup bukanlah keputusan spontan, melainkan puncak dari akumulasi tekanan psikologis dan depresi.
“Secara fisik seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetapi secara psikis mengalami luka yang serius. Keinginan bunuh diri adalah salah satu simptom depresi,” ujarnya.
Merespons kejadian yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyatakan bahwa Pemkot Malang akan menggeser fokus penanganan dari sekadar solusi fisik menuju pendekatan kesehatan mental.
“Pagar jembatan sudah ada. Tapi yang perlu diselesaikan adalah akarnya. Tanpa menyentuh persoalan mental, kasus seperti ini akan terus berulang,” katanya.
Tinggalkan Balasan