Mahasiswi Lompat dari Jembatan Suhat, Krisis Kesehatan Mental Kembali Menghantui Kota Malang - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 25 Jan 2026 10:27 WIB ·

Mahasiswi Lompat dari Jembatan Suhat, Krisis Kesehatan Mental Kembali Menghantui Kota Malang


 Mahasiswi Lompat dari Jembatan Suhat, Krisis Kesehatan Mental Kembali Menghantui Kota Malang Perbesar

Malang, – Upaya bunuh diri kembali melibatkan kalangan mahasiswa di Kota Malang. Seorang mahasiswi berinisial TA (25) dilaporkan melompat dari Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) pada Senin (19/1/2026) dini hari.

Peristiwa ini menambah deretan kasus serupa dan menegaskan alarm krisis kesehatan mental di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan tersebut.

Korban ditemukan di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter, tepatnya di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru.

Meski mengalami patah tulang pada tangan kanan, korban masih dalam kondisi bernapas dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan medis.

Kepala Polsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta, membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, korban sempat terlihat mondar-mandir dengan gelagat gelisah di sekitar jembatan sebelum akhirnya terjatuh sekitar pukul 00.30 WIB.

“Saksi pengemudi ojek daring melihat korban terjatuh dari atas jembatan dan segera melaporkan ke polisi serta relawan. Petugas langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit,” katanya, Minggu (25/1/2026).

Dari hasil penelusuran, motif percobaan bunuh diri ini diduga kuat berkaitan dengan tekanan akademik. Beberapa jam sebelum kejadian, korban mengirimkan pesan kepada adiknya yang berisi permintaan maaf karena merasa telah merepotkan keluarga, terutama terkait skripsi yang belum terselesaikan.

Kasus TA bukan peristiwa tunggal. Jembatan Soekarno-Hatta dan Jembatan Tunggulmas tercatat berulang kali menjadi lokasi percobaan maupun aksi bunuh diri mahasiswa.

Pada November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal di Jembatan Suhat. Sementara pada Juli 2024, mahasiswa lain berinisial AHM (19) selamat setelah mencoba mengakhiri hidup di lokasi yang sama.

Rentetan serupa juga terjadi di Jembatan Tunggulmas. April 2025, mahasiswa BGS (20) asal Jakarta Timur ditemukan meninggal, disusul sebulan kemudian oleh perempuan muda berinisial A (20).
Kompol Anang memetakan sejumlah faktor dominan yang melatarbelakangi kasus-kasus tersebut.

“Motif yang sering muncul antara lain kuliah yang tidak kunjung selesai, ancaman drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik keluarga, hingga jeratan pinjaman daring,” jelasnya.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menilai fenomena ini sebagai dampak tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z, terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, tuntutan akademik yang tinggi kerap tidak diimbangi dengan dukungan emosional yang memadai.

“Ekspektasi keluarga sering kali sangat besar karena biaya kuliah yang mahal. Nilai menjadi tolok ukur utama, sementara proses dan kondisi psikologis mahasiswa kerap terabaikan,” kata Luluk.

Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menegaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup bukanlah keputusan spontan, melainkan puncak dari akumulasi tekanan psikologis dan depresi.

“Secara fisik seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetapi secara psikis mengalami luka yang serius. Keinginan bunuh diri adalah salah satu simptom depresi,” ujarnya.

Merespons kejadian yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyatakan bahwa Pemkot Malang akan menggeser fokus penanganan dari sekadar solusi fisik menuju pendekatan kesehatan mental.

“Pagar jembatan sudah ada. Tapi yang perlu diselesaikan adalah akarnya. Tanpa menyentuh persoalan mental, kasus seperti ini akan terus berulang,” katanya.

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Muatan Tetes Tebu Tumpah ke Jalan Usai Truk Tangki Terguling di Klakah

19 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Rusak Lebih dari 20 Tahun, Jalan Desa Lempeni Lumajang Akhirnya Diresmikan Kawendra

19 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Tes Urine 11 Orang Negatif, Polisi Temukan Lima Klip Diduga Sabu di Karaoke Lumajang

19 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Bunda Indah Cicipi Selai Pepaya di Food Security Expo Lumajang, Ada UMKM dan Pasar Murah!

18 Oktober 2026 - 14:57 WIB

21 Pengurus HKTI Lumajang Dikukuhkan, Bunda Indah Dorong Petani Perkuat Ketahanan Pangan

18 Oktober 2026 - 14:55 WIB

Jalan PB Sudirman Lumajang Mulai Ditata, Proyek 730 Meter Ditargetkan Rampung Desember

18 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Trending di Daerah