Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

Daerah · 23 Feb 2026 14:49 WIB ·

Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan


 Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan Perbesar

Lumajang, – Pagi itu, Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, mengalir deras dengan banjir lahar hujan dari Gunung Semeru.

Material vulkanik bercampur lumpur pekat menghantam tepian sungai, membahayakan siapa pun yang mencoba menyeberang.

Abdul Rohman, jurnalis KompasTV, berdiri di tepian sungai dengan kamera di tangan kanan. Tujuannya jelas: merekam dampak banjir lahar dan perjuangan warga, khususnya anak-anak, yang harus menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah.

Namun pagi itu, liputan berubah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan.

Seorang siswi SDN 3 Jugosari bernama Vita terseret arus deras saat dibonceng ayahnya menyeberangi Sungai Regoyo menggunakan sepeda motor.

Teriakan minta tolong memecah gemuruh air, membuat Rohman seketika merasa tubuhnya terbelah dua.

“Kaki rasanya sudah maju duluan mau nolong. Tapi tangan tetap refleks pegang kamera agar tidak kehilangan momen liputan,” kenang Rohman, Senin (23/2/2026).

Dalam hitungan detik, ia harus memilih antara dua naluri, profesionalisme sebagai jurnalis atau insting kemanusiaan untuk menolong Vita dan ayahnya.

Arus deras hampir menenggelamkan motor dan pengendara, sementara teriakan Vita menggema di sepanjang tepi sungai.
Beruntung, warga sekitar sigap dan berhasil mengevakuasi keduanya.

Vita mengalami luka di lutut akibat benturan batu sungai, sementara sepeda motor yang dikendarai ayahnya mogok karena kemasukan air.

Rohman mengaku situasi seperti ini bukan pertama kalinya ia alami. Saat erupsi besar Gunung Semeru 2021, ia juga berada di ambang bahaya, antara melarikan diri dari awan panas atau tetap mengambil gambar demi dokumentasi bencana.

“Waktu itu, kaki saya sudah mau lari karena awan panas sudah di depan mata. Tapi ada dorongan untuk diam sejenak mengamankan gambar, karena melalui gambar itu orang bisa melihat apa yang terjadi dan terdorong untuk membantu,” ujarnya.

Bagi Rohman, gambar bukan sekadar dokumentasi. Gambar adalah suara yang bisa membangkitkan empati publik dan memicu bantuan nyata bagi warga terdampak bencana.

“Tugas jurnalis di wilayah bencana bukan hanya melaporkan fakta, tetapi menjembatani antara informasi dan tindakan kemanusiaan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Warga Sumberlangsep Kembali Terisolasi akibat Banjir Lahar Lahar Hujan Gunung Semeru

2 November 2026 - 12:30 WIB

Bunda Indah Dorong Pariwisata Lumajang Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Peluang Usaha Warga

31 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Lumajang Raih Wilwatikta Awards 2026, Bunda Indah Jadikan Penghargaan Motivasi Perkuat Ekonomi

31 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Pronojiwo Kembangkan Agrowisata 3 Hektare, Wisatawan Tumpak Sewu Bakal Punya Pilihan Baru

31 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Cegah Stunting di Lumajang, Dinkes P2KB Perkuat Peran Posyandu dan Kolaborasi Desa

31 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Bunda Indah Salurkan BLT DBHCHT 2026, Sebanyak 4.293 Warga Lumajang Terima Alokasi Rp600 Ribu

31 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Trending di Daerah