Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 23 Feb 2026 14:49 WIB ·

Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan


 Saat Lahar Semeru Menyeret Siswi SD, Naluri Kemanusiaan dan Profesionalisme Jurnalis Bertabrakan Perbesar

Lumajang, – Pagi itu, Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, mengalir deras dengan banjir lahar hujan dari Gunung Semeru.

Material vulkanik bercampur lumpur pekat menghantam tepian sungai, membahayakan siapa pun yang mencoba menyeberang.

Abdul Rohman, jurnalis KompasTV, berdiri di tepian sungai dengan kamera di tangan kanan. Tujuannya jelas: merekam dampak banjir lahar dan perjuangan warga, khususnya anak-anak, yang harus menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah.

Namun pagi itu, liputan berubah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan.

Seorang siswi SDN 3 Jugosari bernama Vita terseret arus deras saat dibonceng ayahnya menyeberangi Sungai Regoyo menggunakan sepeda motor.

Teriakan minta tolong memecah gemuruh air, membuat Rohman seketika merasa tubuhnya terbelah dua.

“Kaki rasanya sudah maju duluan mau nolong. Tapi tangan tetap refleks pegang kamera agar tidak kehilangan momen liputan,” kenang Rohman, Senin (23/2/2026).

Dalam hitungan detik, ia harus memilih antara dua naluri, profesionalisme sebagai jurnalis atau insting kemanusiaan untuk menolong Vita dan ayahnya.

Arus deras hampir menenggelamkan motor dan pengendara, sementara teriakan Vita menggema di sepanjang tepi sungai.
Beruntung, warga sekitar sigap dan berhasil mengevakuasi keduanya.

Vita mengalami luka di lutut akibat benturan batu sungai, sementara sepeda motor yang dikendarai ayahnya mogok karena kemasukan air.

Rohman mengaku situasi seperti ini bukan pertama kalinya ia alami. Saat erupsi besar Gunung Semeru 2021, ia juga berada di ambang bahaya, antara melarikan diri dari awan panas atau tetap mengambil gambar demi dokumentasi bencana.

“Waktu itu, kaki saya sudah mau lari karena awan panas sudah di depan mata. Tapi ada dorongan untuk diam sejenak mengamankan gambar, karena melalui gambar itu orang bisa melihat apa yang terjadi dan terdorong untuk membantu,” ujarnya.

Bagi Rohman, gambar bukan sekadar dokumentasi. Gambar adalah suara yang bisa membangkitkan empati publik dan memicu bantuan nyata bagi warga terdampak bencana.

“Tugas jurnalis di wilayah bencana bukan hanya melaporkan fakta, tetapi menjembatani antara informasi dan tindakan kemanusiaan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desa Kerukunan Menyambut Tamu, Warga Senduro Gotong Royong Benahi Jalan

21 Juni 2026 - 12:32 WIB

Bupati Ingatkan Penambang Waspadai AMAK 25, Jangan Tunggu Alarm Berbunyi

20 Juni 2026 - 20:14 WIB

Luka Bakar Hampir Seluruh Tubuh, Penambang Semeru Jadi Pengingat Risiko yang Sering Diabaikan

20 Juni 2026 - 14:14 WIB

PLN Tegaskan Pencurian Kabel Tak Terkait Pemadaman Bergilir di Lumajang

19 Juni 2026 - 20:54 WIB

Keindahan Tumpak Sewu Diubah Jadi Karya Batik Khas Lumajang

19 Juni 2026 - 10:45 WIB

Tanpa Pangkas Layanan, WFH Lumajang Justru Hemat Rp 464 Juta

19 Juni 2026 - 09:55 WIB

Trending di Daerah