Lumajang, – Melimpahnya stok kambing di Kabupaten Lumajang kini menjadi ironi bagi para peternak. Setelah banyak yang beralih dari ternak sapi akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), para peternak justru dihadapkan pada penurunan harga jual yang signifikan akibat kelebihan pasokan di pasaran.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Endra Novianto, mengungkapkan kondisi ini tidak hanya terjadi di Lumajang, tetapi juga di berbagai daerah lain.
“Banyak peternak yang beralih dari sapi ke kambing-domba pasca PMK. Hal ini menyebabkan populasi meningkat tajam, sementara penyerapan pasar tetap,” katanya, Selasa (7/4/2026).
Selain peralihan usaha, munculnya peternak baru juga turut memperparah kondisi over supply, sehingga harga kambing di pasaran semakin tertekan.
Meski demikian, DKPP Lumajang tetap melakukan pembinaan teknis kepada para peternak melalui petugas kesehatan hewan dan inseminator. Namun, terkait mekanisme pasar, pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga.
“Kami tetap melakukan pembinaan teknis. Namun untuk mekanisme pasar, kami tidak bisa berbuat banyak,” jelas Endra.
“Sebagai upaya perlindungan terhadap peternak lokal, kami memastikan tidak akan memberikan rekomendasi pemasukan ternak kambing dan domba dari luar daerah,” ucap dia.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, harga kambing jenis gibas mengalami penurunan drastis dalam beberapa waktu terakhir. Dari sebelumnya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per ekor, kini turun menjadi sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.
Tinggalkan Balasan