Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 3 Mei 2026 07:49 WIB ·

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia


 Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia Perbesar

Lumajang, – Di tangan Kokoh Yulistio Wahono, atau yang akrab disapa Bung Tiok, gitar tak lagi sekadar instrumen musik. Ia menjelma menjadi kanvas hidup, ruang temu antara bunyi dan rupa, antara fungsi dan estetika.

Seniman asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini menghadirkan perspektif baru dalam dunia seni rupa kontemporer dengan menjadikan gitar listrik sebagai medium lukis.

Hasilnya bukan sekadar karya visual, melainkan objek seni eksklusif yang bernilai tinggi. Satu unit gitar lukis karyanya bahkan dibanderol hingga Rp 45 juta, tergantung tingkat kesulitan dan detail pengerjaan.

Namun, di balik nilai fantastis itu, terdapat proses panjang yang tidak sederhana. Setiap gitar harus melalui tahapan teknis yang ketat.

Bung Tiok memulai dengan membongkar seluruh komponen, mulai dari senar hingga perangkat elektronik. Tahap ini memerlukan ketelitian agar tidak merusak struktur dasar instrumen.

Setelah itu, permukaan gitar diamplas untuk menghilangkan lapisan cat lama sekaligus mempersiapkan media agar cat baru dapat menempel sempurna. Di titik inilah proses kreatif dimulai—tahap yang disebut Bung Tiok sebagai “jantung” dari keseluruhan pengerjaan.

Motif yang dihadirkan tidak pernah seragam. Ia menyesuaikan setiap detail dengan karakter dan keinginan klien. Ada yang mengusung gaya surealis, abstrak, hingga ornamen dekoratif yang kompleks.

Seluruhnya dikerjakan secara manual, menjadikan tiap gitar memiliki identitas yang unik. Setelah proses lukis rampung, gitar kemudian dilapisi coating khusus anti gores.

Lapisan ini berfungsi melindungi karya agar tidak mudah luntur sekaligus menjaga tampilan tetap prima meski digunakan dalam aktivitas panggung. Tahap akhir adalah perakitan ulang seluruh komponen oleh luthier profesional.

“Standarnya harus tinggi, karena banyak klien saya adalah gitaris profesional,” ujar Bung Tiok.

Karena itu, ia memilih bekerja sama dengan luthier asal Malang yang dinilai memiliki standar pengerjaan tinggi, terutama dalam hal finishing dan penyetelan ulang instrumen. Kolaborasi ini menjadi kunci agar gitar tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap optimal secara fungsi.

Langkah Bung Tiok merambah medium gitar bermula dari eksperimen sederhana pada 2016. Kala itu, ia merasa gitar polos memiliki ruang visual yang belum tergarap. Dari rasa penasaran tersebut, ia mencoba membongkar dan melukisnya sendiri, sebuah keputusan yang kemudian mengubah arah perjalanan seninya.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Produsen Tempe Lumajang Hadapi Dilema, Jaga Kualitas atau Tekan Biaya

8 April 2026 - 11:46 WIB

Kambing Melimpah, Harga Jatuh, Dampak Peralihan Usaha Peternak Pasca PMK

7 April 2026 - 10:30 WIB

Harga Plastik Naik, Efek Domino Sampai ke Es Batu di Lumajang

6 April 2026 - 16:46 WIB

Trending di Bisnis