Lumajang, – Di tangan Kokoh Yulistio Wahono, atau yang akrab disapa Bung Tiok, gitar tak lagi sekadar instrumen musik. Ia menjelma menjadi kanvas hidup, ruang temu antara bunyi dan rupa, antara fungsi dan estetika.
Seniman asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini menghadirkan perspektif baru dalam dunia seni rupa kontemporer dengan menjadikan gitar listrik sebagai medium lukis.
Hasilnya bukan sekadar karya visual, melainkan objek seni eksklusif yang bernilai tinggi. Satu unit gitar lukis karyanya bahkan dibanderol hingga Rp 45 juta, tergantung tingkat kesulitan dan detail pengerjaan.
Namun, di balik nilai fantastis itu, terdapat proses panjang yang tidak sederhana. Setiap gitar harus melalui tahapan teknis yang ketat.
Bung Tiok memulai dengan membongkar seluruh komponen, mulai dari senar hingga perangkat elektronik. Tahap ini memerlukan ketelitian agar tidak merusak struktur dasar instrumen.
Setelah itu, permukaan gitar diamplas untuk menghilangkan lapisan cat lama sekaligus mempersiapkan media agar cat baru dapat menempel sempurna. Di titik inilah proses kreatif dimulai—tahap yang disebut Bung Tiok sebagai “jantung” dari keseluruhan pengerjaan.
Motif yang dihadirkan tidak pernah seragam. Ia menyesuaikan setiap detail dengan karakter dan keinginan klien. Ada yang mengusung gaya surealis, abstrak, hingga ornamen dekoratif yang kompleks.
Seluruhnya dikerjakan secara manual, menjadikan tiap gitar memiliki identitas yang unik. Setelah proses lukis rampung, gitar kemudian dilapisi coating khusus anti gores.
Lapisan ini berfungsi melindungi karya agar tidak mudah luntur sekaligus menjaga tampilan tetap prima meski digunakan dalam aktivitas panggung. Tahap akhir adalah perakitan ulang seluruh komponen oleh luthier profesional.
“Standarnya harus tinggi, karena banyak klien saya adalah gitaris profesional,” ujar Bung Tiok.
Karena itu, ia memilih bekerja sama dengan luthier asal Malang yang dinilai memiliki standar pengerjaan tinggi, terutama dalam hal finishing dan penyetelan ulang instrumen. Kolaborasi ini menjadi kunci agar gitar tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap optimal secara fungsi.
Langkah Bung Tiok merambah medium gitar bermula dari eksperimen sederhana pada 2016. Kala itu, ia merasa gitar polos memiliki ruang visual yang belum tergarap. Dari rasa penasaran tersebut, ia mencoba membongkar dan melukisnya sendiri, sebuah keputusan yang kemudian mengubah arah perjalanan seninya.
Tinggalkan Balasan