Lumajang, – Bagi sebagian orang, Kecamatan Senduro hanya dikenal sebagai pintu gerbang menuju kawasan Gunung Semeru, Puncak B29 Negeri di Atas Awan, Ranu Pani, hingga Pura Mandhara Giri Semeru Agung.
Padahal, di balik udara dingin dan lanskap pegunungan yang memanjakan mata, Senduro juga menyimpan kekayaan kuliner yang tumbuh dari tradisi masyarakat lereng gunung.
Di kawasan yang berada di ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut ini, makanan bukan sekadar pengganjal perut.
Setiap sajian lahir dari hasil bumi setempat, dipadukan dengan cara memasak yang diwariskan turun-temurun. Rasa hangat menjadi ciri utama, seolah dirancang untuk melawan dinginnya udara pegunungan.
Salah satu kuliner yang paling dikenal adalah Kambing Asap Tempuran. Berbeda dengan sate atau gulai kambing pada umumnya, daging kambing diolah menggunakan bumbu rempah, kemudian diasap perlahan hingga menghasilkan aroma khas.
Proses memasak yang memerlukan waktu cukup lama membuat daging tetap empuk dengan cita rasa gurih yang meresap hingga ke dalam.
Bagi wisatawan yang baru turun dari kawasan B29 atau selesai mendaki Semeru, hidangan ini kerap menjadi pilihan utama untuk mengembalikan tenaga.
Disajikan bersama nasi hangat, sambal, lalapan, dan kuah bening, Kambing Asap Tempuran menjadi salah satu ikon kuliner yang banyak dicari ketika berkunjung ke Senduro. Namun, kuliner Senduro tidak berhenti di sana.
Di sejumlah warung tradisional, pecel telo masih menjadi menu sarapan yang digemari masyarakat. Telo atau ubi jalar yang direbus disajikan bersama sayuran segar dan siraman bumbu kacang yang gurih.
Perpaduan rasa manis alami ubi dengan bumbu pecel menciptakan cita rasa sederhana yang sulit ditemukan di daerah lain.
Komoditas pertanian menjadi kekuatan utama Senduro. Kentang, kubis, wortel, tomat, hingga jagung dipanen hampir sepanjang tahun dari lahan pertanian di lereng Semeru.
Hasil bumi itu kemudian diolah menjadi berbagai menu rumahan yang memenuhi meja makan warga maupun warung-warung sederhana di sepanjang jalan menuju kawasan wisata.
Saat sore mulai turun dan suhu udara perlahan merosot, aroma jagung bakar mulai memenuhi halaman kafe maupun warung di Senduro.
Jagung hasil panen petani setempat dibakar di atas bara arang, kemudian dioles mentega dan bumbu sederhana. Sajian itu terasa semakin nikmat ketika disantap sambil menikmati kabut yang perlahan menyelimuti perbukitan.
Tak sedikit pula wisatawan yang memilih menikmati kopi robusta lokal Lumajang. Diseduh hangat tanpa banyak campuran, kopi dari lereng Semeru menghadirkan rasa pahit yang ringan dengan aroma khas pegunungan.
Kini, berbagai kedai kopi di Senduro mulai memperkenalkan hasil panen petani lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Yang menarik, sebagian besar kuliner di Senduro masih dipertahankan dalam konsep warung keluarga. Bangunan sederhana dengan meja kayu, tungku tradisional, dan keramahan pemilik menjadi daya tarik tersendiri.
Pengunjung bukan hanya datang untuk makan, tetapi juga merasakan suasana pedesaan yang perlahan mulai sulit ditemukan di kawasan wisata modern.
Harga makanan di kawasan ini juga relatif ramah di kantong. Dengan puluhan ribu rupiah, wisatawan sudah dapat menikmati hidangan lengkap dengan minuman hangat.
Kondisi itu membuat Senduro menjadi salah satu destinasi kuliner yang banyak dipilih rombongan wisata maupun pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Semeru.
Di balik berkembangnya sektor pariwisata, kuliner lokal menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari warung makan, kedai kopi, hingga penjualan hasil pertanian yang langsung diolah menjadi hidangan.
Karena itu, menikmati makanan di Senduro sesungguhnya bukan hanya soal rasa. Setiap piring yang tersaji merupakan hasil kerja petani yang mengolah lahan di lereng gunung, peternak yang merawat ternaknya, hingga pelaku usaha kecil yang menjaga resep keluarga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Semeru, B29 Negeri di Atas Awan, atau Pura Mandhara Giri Semeru Agung, meluangkan waktu mencicipi kuliner khas Senduro dapat menjadi pelengkap perjalanan.
Sebab, keindahan alam pegunungan akan terasa semakin lengkap ketika dipadukan dengan cita rasa yang lahir dari tanah yang sama.
Tinggalkan Balasan