Kolaborasi Tumpak Sewu Lumajang Malang untuk Wisata - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 23 Mei 2025 09:14 WIB ·

Merawat Anugerah Tuhan Bersama, Lumajang dan Malang Duduk Satu Meja


 Merawat Anugerah Tuhan Bersama, Lumajang dan Malang Duduk Satu Meja Perbesar

Lensa Warta – Suara gemuruh Air Terjun Tumpak Sewu tak lagi hanya menjadi daya pikat wisata. Kini, ia menjadi simbol persatuan dua daerah yang sama-sama diberkahi anugerah alam luar biasa.

Pada Kamis pagi, Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Pemerintah Kabupaten Malang menggelar pertemuan resmi di Kantor Pemkab Malang untuk membahas pengelolaan terpadu kawasan wisata Tumpak Sewu.

Dalam forum itu, Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas daerah demi menjaga citra Indonesia di mata wisata dunia. Ia menekankan bahwa keindahan Tumpak Sewu tidak bisa dimonopoli.

“Sebagian besar wilayahnya memang masuk Malang, tapi view terbaik dari Lumajang. Kita harus berbagi. Wisata ini akan lebih indah jika dikelola bersama,” ungkap Bunda Indah.

Isu mengenai pungutan tiket ganda yang sering menjadi keluhan wisatawan juga dibahas secara serius. Kedua kepala daerah menyepakati perlunya sistem retribusi yang adil, transparan, dan tidak membingungkan wisatawan.

Bupati Malang, Sanusi, merespons positif ajakan tersebut. Ia memastikan bahwa bangunan liar di sekitar aliran sungai telah dibongkar sesuai teguran dari PU SDA Provinsi Jawa Timur.

“Kami serius menata ulang kawasan ini dengan mengikuti seluruh ketentuan hukum dan tata kelola sungai yang berlaku,” tegas Sanusi.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah, dan perwakilan sektor wisata dari kedua kabupaten. Semua sepakat bahwa Tumpak Sewu bukan milik satu wilayah, melainkan warisan alam yang harus dijaga secara kolaboratif.

Pertemuan ini tidak hanya menghasilkan komitmen administratif, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan lintas batas. Karena alam tidak mengenal batas kabupaten, maka pengelolaannya pun harus berdasarkan semangat gotong royong.

Langkah ini menjadi awal dari model kolaborasi wisata antardaerah yang bisa ditiru oleh wilayah lain di Indonesia. Jika dikelola dengan baik, Tumpak Sewu dapat menjadi ikon pariwisata nasional yang tidak hanya memesona secara visual, tetapi juga menjadi teladan harmoni antarpemerintah daerah.

Dengan komitmen bersama Lumajang dan Malang, Tumpak Sewu tak hanya mengalirkan air dari ketinggian. Ia kini juga mengalirkan harapan baru—bahwa anugerah Tuhan paling indah adalah ketika kita mampu merawatnya bersama-sama.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jam Kerja ASN Kota Malang Turun Jadi 32,5 Jam per Pekan Selama Ramadan

20 Februari 2026 - 14:38 WIB

BI Malang Siapkan Rp3,913 Triliun Uang Tunai untuk Ramadan dan Idulfitri 2026

20 Februari 2026 - 14:28 WIB

Bank Indonesia Jember Siapkan Rp1,9 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026

20 Februari 2026 - 13:51 WIB

Temuan Pasutri Terdaftar di RDKK, Komisi B DPRD Jember Minta Kejelasan Data

20 Februari 2026 - 13:43 WIB

Jangan Lewatkan! Kuota Terbatas, Pendaftaran Mudik Gratis Lumajang 2026 Sudah Dibuka

20 Februari 2026 - 12:10 WIB

Komisi B DPRD Jember Desak Bupati Muhammad Fawait Evaluasi Kadis TPHP yang Mangkir RDP

19 Februari 2026 - 16:43 WIB

Trending di Daerah