Lumajang, – Pelukan demi pelukan mewarnai pelepasan jemaah calon haji Lumajang di Pendopo Arya Wiraraja, Sabtu (17/5/2026) dini hari.
Mata sembab dan suara isak tangis menjadi pemandangan yang mendominasi keberangkatan kloter 100 dan 101 menuju Surabaya.
Di bawah langit Lumajang yang masih gelap, ratusan keluarga tampak berdiri berdesakan di halaman pendopo hingga kawasan Alun-alun Lumajang.
Sebagian menggenggam tangan orang tercinta erat-erat, seolah enggan melepas keberangkatan menuju Tanah Suci.
Tangis pecah ketika satu per satu jemaah mulai memasuki bus yang telah disiapkan. Dari balik kaca jendela, para calon tamu Allah melambaikan tangan kepada keluarga yang mengantar.
Sementara di luar, doa-doa lirih terus dipanjatkan, berharap perjalanan ibadah berjalan lancar hingga kembali ke tanah air.
Tidak sedikit keluarga yang terus berjalan mengikuti laju bus hingga keluar kawasan pendopo.
Mereka tetap melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca, meski kendaraan perlahan menjauh meninggalkan pusat kota Lumajang.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, bus rombongan jemaah sempat diputar mengelilingi Alun-alun Lumajang.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Kementerian Haji Kabupaten Lumajang memberangkatkan jemaah haji kloter 100 dan 101 menuju Surabaya.
“Tahun ini pemberangkatan dilakukan untuk kloter 100 dan 101. Semoga seluruh jemaah diberikan kesehatan, kelancaran, dan kembali menjadi haji yang mabrur,” katanya.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Lumajang, Umar Hasan, mengatakan total jemaah haji asal Lumajang tahun ini mencapai 1.258 orang yang terbagi dalam empat kelompok terbang.
Kloter 98 terdiri dari 229 jemaah, kloter 99 sebanyak 374 jemaah, kloter 100 sebanyak 370 jemaah, dan kloter 101 sebanyak 281 jemaah.
Selain itu, dua jemaah cadangan turut diberangkatkan melalui kloter 97.
Menurut Umar, terdapat enam calon jemaah yang menunda keberangkatan karena alasan kesehatan dan pendamping mahram.
“Empat sampai lima orang sakit, kemudian satu orang menunggu mahram. Ada juga istri yang meminta tunda tahun berikutnya karena mahramnya sakit,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan seluruh proses administrasi dan visa jemaah telah rampung. Sejumlah jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu juga tetap diberangkatkan dengan pendampingan khusus.
“Ada pendampingan dengan orang, alat, dan obat. Secara umum semua sudah siap diberangkatkan,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan