Monyet Liar Serbu Permukiman, Ahli: Perubahan Habitat Picu Perilaku Agresif - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 25 Jun 2025 13:06 WIB ·

Monyet Liar Serbu Permukiman, Ahli: Perubahan Habitat Picu Perilaku Agresif


 Monyet Liar Serbu Permukiman, Ahli: Perubahan Habitat Picu Perilaku Agresif Perbesar

Jember, – Seekor monyet liar memasuki rumah kos di kawasan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, dan memakan puluhan kura-kura peliharaan milik seorang warga.

Peristiwa ini bukanlah kejadian pertama, namun menjadi sorotan karena terjadi di kawasan padat penduduk dan menunjukkan meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar.

Menurut keterangan warga, monyet tersebut muncul secara tiba-tiba pada siang hari, meloncat dari atap rumah ke halaman kos, dan langsung menuju kandang kura-kura.

Sebagian kura-kura ditemukan mati, beberapa lainnya terluka. Warga tak berani mendekat karena perilaku monyet yang agresif dan sulit dikendalikan.

Gangguan Ekosistem dan Alih Fungsi Lahan
Pakar ekologi dari Universitas Jember, Dr. Ratri Santoso, mengatakan bahwa peristiwa ini mencerminkan dampak nyata dari rusaknya habitat alami satwa liar.

“Monyet liar biasanya hidup di kawasan hutan. Namun, ketika habitatnya rusak karena pembukaan lahan atau pembangunan, mereka terdorong mencari makan ke wilayah manusia,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (24/6/25).

Dr. Ratri menjelaskan bahwa monyet adalah satwa oportunis yang cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk lingkungan permukiman.

Namun, interaksi yang intensif dengan manusia dapat menimbulkan risiko baru, seperti penularan penyakit zoonosis hingga serangan fisik terhadap manusia.

Dampak Berantai dan Potensi Konflik
Kejadian serupa juga pernah dilaporkan di beberapa wilayah pinggiran Jember yang berbatasan dengan kawasan hutan produksi.

Disana, warga melaporkan kehilangan hasil kebun seperti pisang dan jagung akibat ulah kelompok monyet liar.

“Jika tak ada intervensi, konflik satwa-manusia akan makin sering terjadi. Bukan hanya kerugian materi, tapi juga bisa mengancam keselamatan manusia,” tambah Dr. Ratri.

Edukasi dan Konservasi Dr. Ratri mendorong agar pemerintah daerah segera menginisiasi program edukasi bagi masyarakat tentang cara merespons kehadiran satwa liar secara aman dan tidak reaktif.

Selain itu, upaya rehabilitasi habitat dan pembuatan zona penyangga antara hutan dan permukiman menjadi solusi jangka panjang.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Jember menyatakan akan menurunkan tim untuk memantau kawasan sekitar dan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur guna mencari solusi penanganan satwa liar yang memasuki permukiman.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Krisis LPG 3 Kg di Jember Usai Lebaran, Warga Kesulitan Memasak

6 April 2026 - 08:59 WIB

Ditinggal Tahlilan Ayah, Siti Maisaroh Ditemukan Meninggal di Dasar Sumur

4 April 2026 - 10:49 WIB

Libur Paskah, Alun-Alun dan Kayutangan Jadi Fokus Pengamanan Lalu Lintas di Malang

3 April 2026 - 18:05 WIB

Tak Semua Pegawai Libur, WFH Lumajang Hanya untuk Administrasi

3 April 2026 - 08:32 WIB

Tragedi Libur Lebaran di Muara Bondoyudo, Pelajar SMP Lumajang Masih Hilang di Hari Keempat

1 April 2026 - 16:23 WIB

Aman untuk Sekarang, Tapi Tidak Pasti, Ketergantungan Kebijakan Pusat pada Nasib P3K

31 Maret 2026 - 17:37 WIB

Trending di Daerah