Pemkot Surabaya Sukses Ubah Aset Terlantar Jadi Mesin Ekonomi Warga - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 7 Agu 2025 16:32 WIB ·

Pemkot Surabaya Sukses Ubah Aset Terlantar Jadi Mesin Ekonomi Warga


 Pemkot Surabaya Sukses Ubah Aset Terlantar Jadi Mesin Ekonomi Warga Perbesar

Surabaya, – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil menyulap aset-aset tidak terpakai milik daerah menjadi lahan produktif yang menggerakkan roda perekonomian warga miskin.

Langkah inovatif ini menjadi bagian dari program padat karya yang diinisiasi oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam forum LPS Financial Festival Surabaya hari kedua, Kamis (7/8/25), Eri Cahyadi mengungkapkan bahwa pendekatan ini tidak hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga meningkatkan penghasilan warga secara signifikan.

Baca juga: Dua Motor Mahasiswa Dicuri, Unej Tarik Peserta KKN dari Desa Alun-alun Lumajang

“Kami manfaatkan aset-aset kota yang selama ini nganggur. Misalnya, ketika kami punya anggaran untuk pembangunan paving, itu kami serahkan ke warga yang tidak punya pekerjaan. Mereka kami kumpulkan, dibuatkan sistem kerja seperti pabrik, dan memproduksi paving dengan alat yang kami sediakan,” terang Eri.

Dari program padat karya tersebut, pendapatan warga yang semula hanya sekitar Rp 500 ribu per bulan, melonjak drastis hingga mencapai Rp 6 juta per orang.

Program ini tidak hanya menekan angka pengangguran, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi di tingkat akar rumput.

Baca juga: Bupati Lumajang: Tidak Ada Lagi Penari Seksi di Sound Horeg

Namun, Eri juga menyoroti tantangan baru yang muncul seiring peningkatan pendapatan, yakni rendahnya literasi keuangan. Banyak warga, katanya, langsung menghabiskan uang tanpa menyisihkan untuk tabungan atau investasi masa depan.

“Masalahnya, mereka dapat uang langsung habis. Setelah meningkatkan pendapatan, tantangan selanjutnya adalah pembinaan agar mereka bisa menyimpan uang di bank,” ujarnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya berkomitmen tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga membina masyarakat dalam pengelolaan keuangan.

Hal ini menjadi bagian dari strategi besar Eri Cahyadi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

Selain padat karya, Pemkot juga menjalankan program digitalisasi UMKM melalui platform e-Peken yang telah mencatat perputaran uang hingga Rp 188 miliar.

Sinergi antara pemberdayaan aset, digitalisasi, dan edukasi keuangan menjadi kekuatan utama Surabaya dalam membangun ekonomi berbasis kerakyatan.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia

3 Mei 2026 - 07:49 WIB

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Produsen Tempe Lumajang Hadapi Dilema, Jaga Kualitas atau Tekan Biaya

8 April 2026 - 11:46 WIB

Kambing Melimpah, Harga Jatuh, Dampak Peralihan Usaha Peternak Pasca PMK

7 April 2026 - 10:30 WIB

Trending di Bisnis