Penantian Panjang Berakhir, Stasiun Klakah Resmi Jadi Stasiun Lumajang - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 11 Agu 2025 08:21 WIB ·

Penantian Panjang Berakhir, Stasiun Klakah Resmi Jadi Stasiun Lumajang


 Penantian Panjang Berakhir, Stasiun Klakah Resmi Jadi Stasiun Lumajang Perbesar

Lumajang, – Hari itu menjadi penanda sejarah baru bagi Kabupaten Lumajang. Setelah melalui perjuangan panjang selama bertahun-tahun, Stasiun Klakah akhirnya resmi disetujui untuk berganti nama menjadi Stasiun Lumajang.

Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, yang menyebut bahwa usulan tersebut telah mendapat dukungan penuh dan kini tengah dalam proses finalisasi administratif di Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

“Kami melihat ini sebagai bentuk penyesuaian identitas wilayah. Nama stasiun adalah simbol kedaerahan, dan Lumajang pantas mendapat pengakuan itu,” kata Denny, Senin (11/8/25).

Baca juga: Inilah 5 Daerah dengan Kriminalitas Tertinggi di Jatim, Lumajang Nomor Berapa?

Selama ini, nama Lumajang tak pernah terdengar di antara deru kereta api yang berhenti di wilayah ini. Stasiun yang terletak di Kecamatan Klakah menjadi satu-satunya pintu masuk transportasi kereta api bagi kabupaten ini tanpa mencantumkan nama daerah induknya.

Akibatnya, Lumajang seperti absen dalam jaringan perkeretaapian nasional, meski secara administratif dan sejarah, kabupaten ini telah lama berdiri dan memiliki peran penting di wilayah timur Jawa.

Proses menuju penggantian nama stasiun ini bukanlah hal sepele. Pemerintah Kabupaten Lumajang telah mengajukan permintaan resmi sejak beberapa tahun lalu. Mulai dari surat menyurat ke kementerian, kajian teknis dan sejarah, hingga audiensi lintas lembagasemua ditempuh demi satu tujuan mengembalikan nama Lumajang ke tempat yang semestinya.

Baca juga: Ide Jualan Kekinian yang Belum Ada di Lumajang: Chicken Salted Egg Rice Bowl, Peluang Cuan Menjanjikan!

Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), menyambut kabar ini dengan penuh syukur dan haru. “Ini bukan sekadar pergantian nama stasiun. Ini adalah kemenangan batin bagi warga Lumajang. Akhirnya, nama daerah kita diakui dalam jaringan perkeretaapian nasional,” ucapnya.

Nama memang bukan segalanya, tapi nama bisa menyimpan makna. Selama ini, wisatawan yang turun di Stasiun Klakah tidak pernah benar-benar tahu bahwa mereka telah menginjak tanah Lumajang. Sopir-sopir ojek dan travel pun sering kali harus menjelaskan berkali-kali: “Ini memang Lumajang, cuma nama stasiunnya Klakah.”

Cerita-cerita kecil seperti ini menjadi luka kolektif. Dan karena itu, ketika akhirnya nama Lumajang akan terpampang di papan stasiun, terdengar dalam pengeras suara kereta, dan tercetak di tiket, rasanya seperti lembar sejarah baru dibuka untuk daerah ini.

“Ini tentang kedaulatan simbolik. Bayangkan, sebuah kabupaten tidak punya stasiun bernama sesuai wilayahnya. Itu membuat kita nyaris tak terpetakan dalam sistem nasional,” ujar Sastro Wijoyo, dosen sejarah lokal di Lumajang.

Langkah ini juga menjadi penanda penting dalam strategi branding dan pariwisata daerah. Nama stasiun adalah pintu masuk pertama bagi wisatawan. Ketika mereka melihat Stasiun Lumajang, maka keterhubungan emosional dan geografis langsung terbentuk.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lumajang, Rasmin, menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan penyesuaian teknis yang dibutuhkan pasca-pergantian nama, termasuk penataan ulang kawasan sekitar stasiun agar lebih representatif dan sesuai dengan identitas kota.

“Ini bukan sekadar ganti papan nama. Kita ingin membangun ulang wajah Lumajang dari pintu gerbang transportasinya,” kata dia.

Tak sedikit warga yang menyambut kabar ini dengan haru. Bu Lestari, 58 tahun, yang setiap bulan naik kereta untuk menjenguk anaknya di Malang, mengaku sangat bangga. “Nanti saya bisa bilang ke orang-orang, saya naik dari Stasiun Lumajang, bukan Klakah lagi,” ujarnya tersenyum.

Artikel ini telah dibaca 65 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Lereng Gunung Semeru, Potensi Itu Ternyata Tersimpan di Balik Kulit Pisang

1 Juni 2026 - 10:03 WIB

Pokir DPRD Difokuskan untuk Fasilitas Umum dan Kebutuhan Warga Karangsari

30 Mei 2026 - 21:03 WIB

BGN Hentikan Sementara Operasional Enam SPPG di Lumajang, Distribusi MBG Ikut Terhenti

30 Mei 2026 - 16:40 WIB

BGN Tutup Sementara Enam SPPG di Lumajang, Tiga Dikelola Yayasan yang Sama

30 Mei 2026 - 12:49 WIB

Enam Dapur MBG di Lumajang Ditutup Sementara, Satgas Sebut Hasil Evaluasi Berjenjang BGN

30 Mei 2026 - 12:31 WIB

Di 11 Desa Lereng Semeru, Tradisi Tengger Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi

29 Mei 2026 - 11:40 WIB

Trending di Daerah