Senduro, Desa di Lereng Semeru yang Menulis Kisah Suksesnya Sendiri - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Pariwisata · 14 Agu 2025 15:45 WIB ·

Senduro, Desa di Lereng Semeru yang Menulis Kisah Suksesnya Sendiri


 Senduro, Desa di Lereng Semeru yang Menulis Kisah Suksesnya Sendiri Perbesar

Lumajang, – Di kaki megah Gunung Semeru, tersembunyi sebuah desa yang tak hanya memeluk alam, tetapi juga menggenggam harapan masa depan.

Senduro, yang dulu dikenal hanya sebagai desa sunyi di Lumajang, kini menjelma menjadi model pembangunan desa berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Ia bukan lagi penonton pembangunan, tetapi pemain utama yang memimpin narasi kemajuan dari pinggiran.

Perubahan Senduro tak terjadi dalam semalam. Bertahun-tahun, warga desa menata langkah mereka. Tidak dengan bangunan menjulang atau pusat perbelanjaan, tetapi dengan pendekatan yang membumi, merawat budaya, menjaga alam, dan membangun komunitas.

Baca juga: Explore Lumajang: East Java’s Hidden Gem

“Senduro tidak ingin berubah dengan meninggalkan jati dirinya. Kami ingin tumbuh tanpa kehilangan akar,” ujar Pak Suyanto, salah satu tokoh masyarakat yang aktif menggerakkan berbagai inisiatif lokal, Kamis (14/8/25).

Melalui pendekatan partisipatif, warga dilibatkan dalam setiap tahapan pembangunan, dari perencanaan wisata desa, pengelolaan homestay, pelatihan UMKM, hingga pelestarian budaya lokal seperti kesenian tradisional dan upacara adat.

Kekuatan Senduro ada pada komunitasnya. Karang Taruna, kelompok petani, ibu-ibu PKK, hingga pelaku seni bekerja bersama merumuskan mimpi-mimpi mereka. Pemerintah desa tak lagi menjadi aktor tunggal, melainkan fasilitator dan pendamping.

Program wisata berbasis pengalaman seperti memetik sayur di kebun, belajar membatik, atau menanam kopi lahir dari ide warga sendiri. Pengunjung pun datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasakan.

Baca juga: Sebanyak 46 PMI Asal Lumajang Bermasalah

“Wisatawan sekarang ingin sesuatu yang nyata, bukan buatan. Di sini mereka bisa bangun pagi dengan kokok ayam, panen sayur, lalu menyeruput kopi sambil memandangi Semeru,” kata Lilis, pemilik homestay yang dibangun dari rumah keluarganya.

Perubahan ini membawa dampak nyata. Menurut data desa, pendapatan warga yang terlibat dalam ekowisata dan UMKM meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Tak hanya itu, anak-anak muda yang dulu merantau mulai kembali—melihat peluang baru di tanah kelahiran mereka.

“Dulu saya kerja di kota. Sekarang saya pulang karena di sini lebih menjanjikan, dan saya bisa dekat dengan keluarga,” kata Wahyu, pemuda 27 tahun yang kini mengelola kedai kopi berbasis produk lokal.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Waspada Longsor dan Angin Kencang, Camping Ground Ranu Regulo Ditutup Sementara

9 Maret 2026 - 17:08 WIB

Libur Lebaran dan Nyepi Jadi Momentum, Lumajang Kenalkan Wisata Viral Air Terjun Sumber Telu

6 Maret 2026 - 10:25 WIB

Wisata Sungai Glidik Tak Bisa Sembarangan, Izin Gubernur Jadi Kunci

13 Februari 2026 - 10:55 WIB

Kayutangan Heritage Bikin Wisatawan Betah, Okupansi Hotel Malang Stabil di 70 Persen

2 Februari 2026 - 09:10 WIB

DPRD Lumajang Ungkap Kesepakatan Lama Pengelolaan Tumpak Sewu dan Coban Sewu

1 Februari 2026 - 10:07 WIB

Tarik Tiket di Dasar Sungai Bisa Berujung Pidana, Ini Peringatan Pemkab Lumajang

29 Januari 2026 - 16:17 WIB

Trending di Pariwisata