Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Utama 3.653 Perceraian di Jember Sepanjang 2025 - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Daerah · 8 Nov 2025 12:07 WIB ·

Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Utama 3.653 Perceraian di Jember Sepanjang 2025


 Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Utama 3.653 Perceraian di Jember Sepanjang 2025 Perbesar

Jember, – Tekanan ekonomi kembali menjadi faktor dominan yang memicu retaknya rumah tangga di Kabupaten Jember. Data Pengadilan Agama (PA) Jember mencatat, dari total 5.068 perkara perceraian sepanjang Januari hingga Oktober 2025, sebanyak 3.653 kasus dipicu masalah ekonomi keluarga.

Humas PA Jember, Mohammad Hosen, mengatakan tingginya angka perceraian akibat tekanan ekonomi mencerminkan dampak berkelanjutan dari pandemi dan kenaikan biaya hidup yang dirasakan banyak keluarga.

Baca juga: Program Mlijo Cinta Jember Terancam Gagal Serap Anggaran Rp 12,6 Miliar

“Banyak pasangan yang akhirnya tidak mampu bertahan karena kondisi ekonomi yang sulit. Kami berharap suami istri bisa mencari jalan keluar bersama sebelum menempuh jalur hukum,” ujar Hosen saat dikonfirmasi, Sabtu (8/11/2025).

Selain faktor ekonomi, PA Jember mencatat penyebab lain perceraian, antara lain perselisihan dan pertengkaran terus-menerus sebanyak 1.139 kasus, serta 146 kasus karena salah satu pihak meninggalkan pasangannya.

Baca juga:Legislator Jember: Ketidakhadiran Kades Tanda Lemahnya Dukungan Terhadap Program Bupati

Pada Oktober 2025 saja, tercatat 555 perkara perceraian dengan rincian 391 kasus karena ekonomi, 125 akibat pertengkaran, 14 kasus KDRT, 15 kasus meninggalkan pasangan, dan beberapa kasus unik seperti kawin paksa, murtad, judi, dan mabuk.

Dari total perkara perceraian yang diputus sepanjang sepuluh bulan pertama 2025, 5.908 kasus merupakan perceraian dengan rincian 1.298 cerai talak (permohonan dari suami) dan 4.610 cerai gugat (gugatan dari istri).

Hosen menambahkan bahwa tingginya angka cerai gugat menunjukkan bahwa inisiatif perceraian mayoritas datang dari pihak istri, khususnya dipicu faktor ekonomi.

“Tren ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Masalah ekonomi masih menjadi penyebab terbesar yang memicu gugatan cerai,” jelasna.

Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pencarian Rizky di Pantai Pandanwangi Libatkan Keluarga hingga Nelayan Setempat

16 Oktober 2026 - 09:13 WIB

25 Truk Ditindak di Pasirian, Polisi Temukan Pelanggaran Jam Operasional dan SIM

15 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Kades Selok Anyar Sebut Kabar Sumpah Pocong Salah Total, Ini Penjelasannya

15 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Satresnarkoba Lumajang Janjikan Razia Berkala di Tempat Hiburan Malam

15 Oktober 2026 - 14:57 WIB

Satu Nelayan Hilang setelah Perahu Terbalik di Perairan Selatan Lumajang

15 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Kecelakaan Beruntun di Lumajang, Satu Orang Luka dan Kerugian Rp 30 Juta

15 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Trending di Daerah