Keripik Pare Has Senduro, Camilan Lokal yang Bisa Tahan Tiga Bulan Tanpa Pengawet - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Bisnis · 6 Des 2025 12:26 WIB ·

Keripik Pare Has Senduro, Camilan Lokal yang Bisa Tahan Tiga Bulan Tanpa Pengawet


 Keripik Pare Has Senduro, Camilan Lokal yang Bisa Tahan Tiga Bulan Tanpa Pengawet Perbesar

Lumajang, – Di tengah persaingan dunia kuliner yang semakin ketat, Nur Sulihati warga Desa Senduro, Lumajang, berhasil menghadirkan produk lokal yang tidak hanya unik tetapi juga berkualitas tinggi.

Melalui merek Naran, ia mengolah pare sayuran yang sering dianggap pahit, menjadi keripik renyah yang mampu bertahan hingga tiga bulan tanpa bahan pengawet.

Berawal dari keinginannya memanfaatkan komoditas lokal, ia melihat potensi besar pada pare dan jamur, dua bahan yang melimpah di sekitar Senduro.

Tidak ingin membuat produk yang pasarnya sudah jenuh, ia memilih menciptakan olahan yang jarang disentuh pelaku UMKM lain.

“Saya suka makan pare dan kepikiran bagaimana caranya dibikin keripik. Dicoba berkali-kali, gagal berkali-kali, tapi akhirnya ketemu yang pas. Tahan lama, renyah, dan tanpa pengawet,” tuturnya, Sabtu (6/12/2025).

Proses pengembangan resep tidak mudah. Keripik pertamanya sering alot dan tidak renyah. Namun dari beberapa kali percobaan, ia menemukan teknik pengolahan dan peracikan tepung yang tepat sehingga menghasilkan keripik pare yang gurih, ringan, dan memiliki tekstur yang stabil hingga tiga bulan penyimpanan.

“Kalau dulu sebelum jadi, sering alot. Setelah saya pelajari perlahan, akhirnya menemukan resep yang pas,” jelasnya.

Selain pare, ia mengembangkan keripik jamur yang menggunakan teknik serupa. Banyaknya petani jamur di desanya membuat bahan baku mudah diperoleh, meski harganya cenderung lebih mahal.

“Kedua produk ini dijual dengan harga Rp12.000 per 100 gram, harga yang dihitung cermat berdasarkan fluktuasi pare dan jamur di pasaran,” katanya.

Meski rasa dan kualitasnya mendapat banyak pujian, tantangan utama tetap ada pemasaran. Produk lokal menurutnya sering kali diremehkan warga sekitar, sementara konsumen luar daerah justru lebih menghargai.

Bahkan, seorang pelanggan dari Surabaya memesan satu kilogram setiap bulan untuk camilan ibunya yang memiliki diabetes.

Tidak hanya itu, produk Naran juga pernah dibawa menjadi oleh-oleh hingga Jakarta dan Malaysia. Ia berharap, dengan rencana pembangunan rest area di dekat desanya, keripik pare dan jamur buatannya bisa menjadi ikon baru oleh-oleh khas Senduro.

“Orang biasanya kenal Senduro karena pisang. Saya ingin orang juga kenal keripik pare dan jamur dari sini,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Gitar Tak Lagi Sekadar Alat Musik, Sentuhan Seni Bung Tiok Jadi Buruan Kolektor Dunia

3 Mei 2026 - 07:49 WIB

Berawal dari Botol Bekas, Arif Kini Panen 7 Kuintal Selada Setiap 40 Hari

23 April 2026 - 07:43 WIB

Halal Bihalal Kadin Lumajang–Sidoarjo, Pertanyakan Minimnya Kekompakan Pengusaha Lokal

11 April 2026 - 16:54 WIB

Tak Bisa Sajikan Teh Hangat, Pedagang Bakso di Lumajang Kehilangan Pelanggannya

10 April 2026 - 11:10 WIB

Produsen Tempe Lumajang Hadapi Dilema, Jaga Kualitas atau Tekan Biaya

8 April 2026 - 11:46 WIB

Kambing Melimpah, Harga Jatuh, Dampak Peralihan Usaha Peternak Pasca PMK

7 April 2026 - 10:30 WIB

Trending di Bisnis