Ketahanan Pangan Terancam Jadi Korban Silpa, DPRD Minta Perencanaan APBD Lebih Matang - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 3 Jan 2026 09:22 WIB ·

Ketahanan Pangan Terancam Jadi Korban Silpa, DPRD Minta Perencanaan APBD Lebih Matang


 Ketahanan Pangan Terancam Jadi Korban Silpa, DPRD Minta Perencanaan APBD Lebih Matang Perbesar

Jember, – Tingginya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) APBD Jember 2025 yang masih berada di kisaran Rp 700 miliar dinilai berpotensi menghambat sektor-sektor strategis, salah satunya ketahanan pangan.

DPRD Jember menilai penumpukan eksekusi program hingga akhir tahun menjadi persoalan serius yang harus segera dibenahi.

Ketua DPRD Jember Ahmad Halim menegaskan, sektor ketahanan pangan seharusnya menjadi prioritas utama, terutama dalam menyelaraskan program pemerintah pusat dan daerah. Namun, lemahnya perencanaan dan keterlambatan pelaksanaan program justru berisiko membuat anggaran tidak terserap maksimal.

“Eksekusi program jangan selalu menumpuk di triwulan kedua atau menjelang akhir tahun. Kalau perencanaan dilakukan dengan matang sejak awal, program ketahanan pangan bisa berjalan optimal dan Silpa tidak sebesar sekarang,” katanya.

Berdasarkan laporan sementara Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) per 19 Desember 2025, Silpa APBD Jember masih berada di angka sekitar Rp 700 miliar. Hingga penutupan kas daerah akhir Desember, DPRD memproyeksikan Silpa hanya turun ke kisaran Rp 600 miliar, angka yang dinilai masih terlalu tinggi.

Menurut Halim, kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya pelaksanaan program, termasuk di OPD teknis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, seperti pengelolaan bantuan alat mesin pertanian (alsintan), pupuk, irigasi, hingga optimalisasi lahan pertanian.

“Tahun 2025 ini adalah tahun awal pemerintahan. Seharusnya menjadi momentum pembenahan tata kelola anggaran, bukan justru meninggalkan Silpa besar yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

DPRD berencana melakukan evaluasi menyeluruh setelah tutup buku anggaran. Setiap komisi akan diminta membedah kinerja OPD mitra kerjanya masing-masing untuk memetakan penyebab rendahnya serapan anggaran, termasuk temuan lapangan terkait keterlambatan eksekusi program dan proyek fisik.

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desa Kerukunan Menyambut Tamu, Warga Senduro Gotong Royong Benahi Jalan

21 Juni 2026 - 12:32 WIB

Bupati Ingatkan Penambang Waspadai AMAK 25, Jangan Tunggu Alarm Berbunyi

20 Juni 2026 - 20:14 WIB

Luka Bakar Hampir Seluruh Tubuh, Penambang Semeru Jadi Pengingat Risiko yang Sering Diabaikan

20 Juni 2026 - 14:14 WIB

PLN Tegaskan Pencurian Kabel Tak Terkait Pemadaman Bergilir di Lumajang

19 Juni 2026 - 20:54 WIB

Keindahan Tumpak Sewu Diubah Jadi Karya Batik Khas Lumajang

19 Juni 2026 - 10:45 WIB

Tanpa Pangkas Layanan, WFH Lumajang Justru Hemat Rp 464 Juta

19 Juni 2026 - 09:55 WIB

Trending di Daerah