Lumajang, – Di balik derasnya arus Sungai Rawaan yang mengalir di Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, berdiri sebuah bendungan tua yang masih kokoh menahan tekanan alam, Dam Rawaan.
Meski dibangun sejak masa kolonial Belanda, bendungan ini tetap berfungsi dengan baik dan menjadi bukti nyata kecerdikan teknik pengelolaan air pada masa lalu.
Sabtu (1/11/2025) malam, debit air di Dam Rawaan meningkat drastis akibat hujan deras di wilayah hulu. Kondisi itu sempat membuat warga Dusun Sukosari panik karena arus air hampir meluap.
Namun, bangunan dam peninggalan Belanda tersebut kembali membuktikan ketangguhannya tak sedikit pun mengalami kerusakan.
Baca juga: BPBD Lumajang Terus Pantau Sungai Menjangan Usai Penanganan Genangan di Dusun Biting
“Alhamdulillah, pantauan kami pada pukul 05.00 pagi ini menunjukkan kondisi sungai dan Dam Rawaan sudah normal kembali,” ujar Abdul Rohman, Sekretaris Desa Pundungsari, Senin (3/11/2025).
Menurutnya, meskipun debit air naik tinggi, struktur bendungan dan lingkungan sekitarnya tetap aman. “Banyak warga yang khawatir karena airnya tinggi sekali, tapi syukurlah tidak ada kerusakan. Semuanya terkendali,” tambahnya.
Untuk diketahui, pada masa kolonial, Belanda dikenal sebagai bangsa ahli air. Mereka membangun banyak bendungan di Jawa Timur untuk mengatur tata irigasi, terutama guna menunjang perkebunan tebu dan sawah yang menjadi tulang punggung ekonomi kala itu.
Baca juga:Musim Hujan Datang, Lumajang Waspadai Longsor di Daerah Rawan Pegunungan
Dam Rawaan cintohnya, dibangun dengan prinsip-prinsip teknik hidrologi yang mengedepankan perhitungan debit air, pemanfaatan material lokal seperti batu kali dan kapur, serta struktur pondasi berlapis.
Sistem pelimpas (spillway) dirancang agar air berlebih dapat mengalir keluar tanpa menekan dinding bendungan. Filosofi rekayasa ini dikenal dengan konsep mengikuti aliran alam, bukan melawan air, prinsip yang membuat bangunan Belanda di Nusantara mampu bertahan hingga kini.
Ketika debit air Sungai Rawan meningkat tajam beberapa hari lalu, sistem alami itu bekerja sempurna. Air melimpas teratur, dan bendungan tetap berdiri teguh. Bagi warga sekitar, itu bukan sekadar keberuntungan, melainkan bukti kualitas konstruksi yang dirancang untuk menghadapi cuaca tropis ekstrem.
Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Dam Rawan berperan vital sebagai sumber irigasi utama bagi tiga desa di Kecamatan Tempursari, Pundungsari, Tempurejo, dan Bulurejo. Aliran air dari dam ini menghidupi ratusan hektare lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama warga.
Setiap musim tanam, dam ini memastikan air tersedia cukup bagi sawah dan ladang. Tak heran, ketika debit air meningkat pada Sabtu malam, kecemasan warga bukan hanya karena takut banjir, tapi juga kekhawatiran akan terganggunya sistem irigasi yang mereka andalkan.
Disamping itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Yudhi Cahyono, mengingatkan masyarakat di kawasan pegunungan untuk tetap waspada terhadap potensi banjir dan longsor.
“Kami mengimbau masyarakat di sekitar daerah rawan agar selalu waspada, terutama saat dan setelah hujan deras,” ujarnya.
Tinggalkan Balasan