Lumajang, – Pendirian Pura Mandara Giri Semeru Agung di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melewati perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade.
Berawal dari gagasan pada 1969, pembangunan tempat suci umat Hindu ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pencarian lokasi, pengurusan izin, hingga pengumpulan dana.
Kini, pura yang berada di kaki Gunung Semeru tersebut menjadi tempat persembahyangan umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia. Perjalanan pendiriannya menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan keagamaan dan budaya masyarakat Senduro.
Pengurus Harian Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Wira Dharma, mengatakan sebelum pura berdiri, umat Hindu di kawasan Senduro melaksanakan persembahyangan di sanggar pamujon yang tersebar di sejumlah desa.
Gagasan membangun tempat suci yang lebih representatif kemudian mendorong umat untuk mencari lokasi dan menghimpun dukungan.
Namun, mewujudkan gagasan itu bukan perkara mudah.
“Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan sebelum akhirnya dipilih tempat yang kini menjadi kompleks Pura Mandara Giri Semeru Agung,” katanya, Minggu (25/10/2026).
Lokasi pertama yang diusulkan tidak mendapat persetujuan karena dinilai sempit dan berada dekat dengan permukiman masyarakat non-Hindu.
Lokasi lain di Desa Kertasari juga sempat dipertimbangkan, tetapi akhirnya tidak dipilih karena dinilai berada di kawasan yang berpotensi terdampak aliran lahar.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, lokasi pembangunan akhirnya ditetapkan di tempat yang sekarang ditempati pura.
“Lahan awal berukuran 25 x 60 meter, kemudian tercatat menjadi 25 x 65 meter, dengan harga pembelian Rp 4,5 juta,” jelasnya.
Selain mencari lokasi, kata dia, para penggagas harus melewati proses perizinan yang memerlukan waktu panjang. Setelah pengajuan kembali, izin pendirian pura baru diperoleh sekitar tiga tahun kemudian.Persoalan lain muncul dalam pendanaan pembangunan.
“Pada tahap awal, dana yang terkumpul mencapai Rp 40 juta. Melalui upaya penggalangan dana, jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi Rp 90 juta,” bebernya.
Dukungan umat Hindu dari Bali turut memperkuat upaya pembangunan. Pada 1989, tokoh-tokoh Hindu dari Bali bertemu dengan masyarakat setempat untuk membahas pendirian pura.
“Nah, dari pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan panitia bersama yang melibatkan unsur Senduro dan Bali,” katanya.
Kerja sama itu memperlihatkan keterlibatan umat Hindu dari berbagai daerah dalam mewujudkan tempat suci tersebut. PHDI Kabupaten Lumajang selanjutnya menerbitkan surat pengangkatan melalui Nomor 94/PHDI-LMJ/IV/1991.
Setelah melalui berbagai tahapan, pendirian pura memasuki fase penting pada 1992. Pada 8 Maret 1992, dilaksanakan upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar yang dipimpin delapan pendeta.
“Rangkaian upacara besar kemudian berlangsung pada Juni hingga Juli 1992, meliputi Pamungkah Agung, Ngenteg Linggih, dan Pujawali,” ucap dia.
Pada tahun yang sama, PHDI Pusat menerbitkan Surat Keputusan Nomor 07/Kep/V/PHDI/1992 yang menetapkan nama Pura Mandara Giri Semeru Agung sekaligus statusnya sebagai Pura Kahyangan Jagat.
Penetapan tersebut menjadikan pura ini sebagai tempat suci bagi umat Hindu secara luas, bukan hanya bagi umat yang tinggal di Senduro.
“Umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia menjadi panyungsung, yakni umat yang memuliakan dan mendukung keberadaan pura,” tuturnya.
Seiring perkembangannya, pembangunan dan pengembangan kompleks pura disebut menelan biaya sekitar Rp 1,8 miliar. Luas kawasan pura kini mencapai hampir dua hektare.
Pura Mandara Giri Semeru Agung kini menjadi tujuan persembahyangan umat Hindu dari berbagai daerah, terutama saat Purnama, Tilem, Galungan, dan Kuningan.
Kehadiran pengunjung juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejumlah warga menjalankan usaha makanan dan minuman, menjual kaus serta cendera mata, hingga menyediakan kamar bagi pengunjung yang membutuhkan tempat menginap.
Aktivitas budaya turut mewarnai kehidupan di kawasan pura. Salah satunya adalah festival ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi.
“Ogoh-ogoh menggambarkan Bhuta Kala yang berkaitan dengan kekuatan alam dan waktu dalam tradisi Hindu,” kata Wira.
Sementara itu, Nyepi menjadi momentum penyucian Bhuana Alit atau alam kecil dalam diri manusia dan Bhuana Agung atau alam semesta.
Tinggalkan Balasan