Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Pendidikan · 6 Apr 2025 10:22 WIB ·

Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni


 Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni Perbesar

Lensa Warta – Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat. Salah satu yang tengah viral di media sosial adalah penggunaan fitur image generator dari ChatGPT. Fitur ini bisa mengubah foto menjadi ilustrasi bergaya Studio Ghibli, sebuah rumah produksi animasi terkenal dari Jepang.

Setelah OpenAI meluncurkan fitur baru ini, banyak pengguna ChatGPT—terutama yang berlangganan—berbagi hasil editan mereka di berbagai platform. Ilustrasi yang dihasilkan memberikan kesan magis, estetis, dan penuh fantasi, mirip karya Hayao Miyazaki, tokoh utama di Studio Ghibli.

Tren ini cepat menyebar, terutama di kalangan penggemar anime dan kreator digital. Banyak unggahan foto pribadi yang diubah menjadi karakter Ghibli membanjiri linimasa media sosial, menarik perhatian banyak orang, mulai dari anak muda hingga dewasa.

Namun, di balik kepopulerannya, ada perdebatan soal etika, terutama tentang hak cipta dan pengaruhnya terhadap dunia seni digital. Studio Ghibli terkenal karena komitmennya pada animasi manual dan nilai-nilai kemanusiaan dalam berkarya. Hayao Miyazaki sendiri pernah menyatakan keprihatinan tentang penggunaan AI dalam animasi, menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.”

CEO OpenAI, Sam Altman, juga menanggapi tingginya minat pengguna. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan membuat server mereka terbebani. Akibatnya, OpenAI harus membatasi akses. Pengguna gratis ditunda dan hanya bisa membuat tiga gambar per hari untuk sementara waktu.

Tren ilustrasi AI ini memang kontroversial, tetapi juga membuka babak baru dalam kreativitas digital. Ini kesempatan untuk eksplorasi seni visual dengan teknologi. Tapi, penting untuk selalu menghargai karya orisinal, seniman manusia, dan nilai-nilai etika dalam dunia kreatif saat ini.

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua TP PKK Lumajang Dorong Pendidikan Adaptif Hadapi Generasi Alpha

15 Mei 2026 - 17:14 WIB

Seto Mulyadi Ingatkan Orang Tua Cerdas Digital untuk Cegah Kekerasan di Ruang Siber

15 Mei 2026 - 11:24 WIB

Seto Mulyadi: Mendidik Bukan Menghardik, Mengajar Bukan Menghajar

15 Mei 2026 - 11:03 WIB

Menganyam Harmoni di Lereng Semeru, Keberagaman Budaya dan Adat di Kecamatan Senduro

26 Maret 2026 - 11:37 WIB

Ramadan Jadi Momentum Lahirnya Asrama Tahassus 600 Santri di Lumajang, Bupati Sebut Kebanggaan Daerah

6 Maret 2026 - 19:00 WIB

Sungai Regoyo Meluap, 37 Siswa SD di Dusun Sumberlangsep Terpaksa Ujian dari Rumah

5 Maret 2026 - 18:24 WIB

Trending di Pendidikan