Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

Pendidikan · 6 Apr 2025 10:22 WIB ·

Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni


 Fenomena AI Gaya Ghibli Lewat ChatGPT: Kreativitas Digital dan Isu Etika Seni Perbesar

Lensa Warta – Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat. Salah satu yang tengah viral di media sosial adalah penggunaan fitur image generator dari ChatGPT. Fitur ini bisa mengubah foto menjadi ilustrasi bergaya Studio Ghibli, sebuah rumah produksi animasi terkenal dari Jepang.

Setelah OpenAI meluncurkan fitur baru ini, banyak pengguna ChatGPT—terutama yang berlangganan—berbagi hasil editan mereka di berbagai platform. Ilustrasi yang dihasilkan memberikan kesan magis, estetis, dan penuh fantasi, mirip karya Hayao Miyazaki, tokoh utama di Studio Ghibli.

Tren ini cepat menyebar, terutama di kalangan penggemar anime dan kreator digital. Banyak unggahan foto pribadi yang diubah menjadi karakter Ghibli membanjiri linimasa media sosial, menarik perhatian banyak orang, mulai dari anak muda hingga dewasa.

Namun, di balik kepopulerannya, ada perdebatan soal etika, terutama tentang hak cipta dan pengaruhnya terhadap dunia seni digital. Studio Ghibli terkenal karena komitmennya pada animasi manual dan nilai-nilai kemanusiaan dalam berkarya. Hayao Miyazaki sendiri pernah menyatakan keprihatinan tentang penggunaan AI dalam animasi, menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.”

CEO OpenAI, Sam Altman, juga menanggapi tingginya minat pengguna. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan membuat server mereka terbebani. Akibatnya, OpenAI harus membatasi akses. Pengguna gratis ditunda dan hanya bisa membuat tiga gambar per hari untuk sementara waktu.

Tren ilustrasi AI ini memang kontroversial, tetapi juga membuka babak baru dalam kreativitas digital. Ini kesempatan untuk eksplorasi seni visual dengan teknologi. Tapi, penting untuk selalu menghargai karya orisinal, seniman manusia, dan nilai-nilai etika dalam dunia kreatif saat ini.

Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Puluhan Siswa SDN Jugosari 3 Terisolasi Banjir Lahar Semeru, Pembelajaran Dialihkan Daring

2 November 2026 - 17:26 WIB

Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang

1 November 2026 - 12:27 WIB

Kejurkab E-Sport Lumajang Jadi Langkah Awal, KONI Buka Peluang Gelar Turnamen Setiap Bulan

1 November 2026 - 10:00 WIB

Ratusan Anak Muda Ikuti Kejurkab E-Sport, Peluang Karier Atlet Digital Terbuka di Lumajang

1 November 2026 - 09:43 WIB

Senduro Tak Hanya Menawarkan Alam, Kearifan Lokal Jadi Daya Tarik Wisatawan Mancanegara

28 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Sosialisasi KIPAN Lumajang, Menguatkan Peran Pemuda dalam Pencegahan Narkoba

27 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Trending di Daerah