Wayang Kulit Wahyu Katentreman Lumajang dan Budaya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 8 Sep 2025 07:15 WIB ·

Gema Wahyu Katentreman: Lumajang Hidupkan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya dan Perekat Bangsa


 Gema Wahyu Katentreman: Lumajang Hidupkan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya dan Perekat Bangsa Perbesar

Wayang Kulit Kembali Hidup di Alun-Alun Lumajang

Pemerintah Kabupaten Lumajang menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni budaya tradisional melalui pagelaran wayang kulit “Wahyu Katentreman” di Alun-Alun Lumajang, Sabtu (6/9/2025). Ribuan warga hadir menyaksikan pertunjukan yang sarat makna tersebut.

Bunda Indah: Wayang Adalah Tuntunan, Bukan Sekadar Tontonan

Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), menegaskan bahwa wayang kulit bukan hanya hiburan, tetapi warisan budaya dunia yang membawa pesan moral dan nilai persatuan.

“Wayang kulit adalah warisan budaya yang telah diakui UNESCO. Ia adalah tuntunan, bukan sekadar tontonan. Generasi muda harus mencintai budaya ini karena di sanalah identitas bangsa bertumpu,” ujarnya.

Pesan Damai dalam Lakon Wahyu Katentreman

Lakon yang dipentaskan, “Wahyu Katentreman”, mengangkat pesan ketenteraman, persatuan, serta penolakan terhadap provokasi dan tindakan anarkis. Pesan tersebut dinilai sangat relevan di tengah dinamika sosial saat ini.

Bunda Indah juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga harmoni daerah.
“Mari kita jaga Lumajang tetap damai dari pihak-pihak yang ingin memecah belah. Budaya adalah benteng yang menyatukan kita,” tegasnya.

Perekat Generasi dan Daya Tarik Pariwisata

Pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga ruang strategis memperkuat kebersamaan lintas generasi. Anak-anak muda memperoleh pendidikan karakter dari kisah pewayangan, sementara masyarakat luas diajak merenungkan pentingnya hidup rukun dan tenteram.

Selain itu, acara ini memberikan dampak positif pada sektor pariwisata budaya Lumajang. Kehadiran ribuan penonton di Alun-Alun membuktikan bahwa seni tradisi masih relevan, diminati, dan mampu menjadi magnet sosial di era modern.

Budaya Sebagai Pilar Masa Depan

Dari panggung Alun-Alun Lumajang, gema Wahyu Katentreman mengingatkan bangsa bahwa budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan pilar untuk membangun masa depan yang damai, beradab, dan penuh persatuan.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jam Kerja ASN Kota Malang Turun Jadi 32,5 Jam per Pekan Selama Ramadan

20 Februari 2026 - 14:38 WIB

BI Malang Siapkan Rp3,913 Triliun Uang Tunai untuk Ramadan dan Idulfitri 2026

20 Februari 2026 - 14:28 WIB

Bank Indonesia Jember Siapkan Rp1,9 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026

20 Februari 2026 - 13:51 WIB

Temuan Pasutri Terdaftar di RDKK, Komisi B DPRD Jember Minta Kejelasan Data

20 Februari 2026 - 13:43 WIB

Jangan Lewatkan! Kuota Terbatas, Pendaftaran Mudik Gratis Lumajang 2026 Sudah Dibuka

20 Februari 2026 - 12:10 WIB

Komisi B DPRD Jember Desak Bupati Muhammad Fawait Evaluasi Kadis TPHP yang Mangkir RDP

19 Februari 2026 - 16:43 WIB

Trending di Daerah