Wayang Kulit Wahyu Katentreman Lumajang dan Budaya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 8 Sep 2025 07:15 WIB ·

Gema Wahyu Katentreman: Lumajang Hidupkan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya dan Perekat Bangsa


 Gema Wahyu Katentreman: Lumajang Hidupkan Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya dan Perekat Bangsa Perbesar

Wayang Kulit Kembali Hidup di Alun-Alun Lumajang

Pemerintah Kabupaten Lumajang menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni budaya tradisional melalui pagelaran wayang kulit “Wahyu Katentreman” di Alun-Alun Lumajang, Sabtu (6/9/2025). Ribuan warga hadir menyaksikan pertunjukan yang sarat makna tersebut.

Bunda Indah: Wayang Adalah Tuntunan, Bukan Sekadar Tontonan

Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), menegaskan bahwa wayang kulit bukan hanya hiburan, tetapi warisan budaya dunia yang membawa pesan moral dan nilai persatuan.

“Wayang kulit adalah warisan budaya yang telah diakui UNESCO. Ia adalah tuntunan, bukan sekadar tontonan. Generasi muda harus mencintai budaya ini karena di sanalah identitas bangsa bertumpu,” ujarnya.

Pesan Damai dalam Lakon Wahyu Katentreman

Lakon yang dipentaskan, “Wahyu Katentreman”, mengangkat pesan ketenteraman, persatuan, serta penolakan terhadap provokasi dan tindakan anarkis. Pesan tersebut dinilai sangat relevan di tengah dinamika sosial saat ini.

Bunda Indah juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga harmoni daerah.
“Mari kita jaga Lumajang tetap damai dari pihak-pihak yang ingin memecah belah. Budaya adalah benteng yang menyatukan kita,” tegasnya.

Perekat Generasi dan Daya Tarik Pariwisata

Pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga ruang strategis memperkuat kebersamaan lintas generasi. Anak-anak muda memperoleh pendidikan karakter dari kisah pewayangan, sementara masyarakat luas diajak merenungkan pentingnya hidup rukun dan tenteram.

Selain itu, acara ini memberikan dampak positif pada sektor pariwisata budaya Lumajang. Kehadiran ribuan penonton di Alun-Alun membuktikan bahwa seni tradisi masih relevan, diminati, dan mampu menjadi magnet sosial di era modern.

Budaya Sebagai Pilar Masa Depan

Dari panggung Alun-Alun Lumajang, gema Wahyu Katentreman mengingatkan bangsa bahwa budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan pilar untuk membangun masa depan yang damai, beradab, dan penuh persatuan.

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desa Kerukunan Menyambut Tamu, Warga Senduro Gotong Royong Benahi Jalan

21 Juni 2026 - 12:32 WIB

Bupati Ingatkan Penambang Waspadai AMAK 25, Jangan Tunggu Alarm Berbunyi

20 Juni 2026 - 20:14 WIB

Luka Bakar Hampir Seluruh Tubuh, Penambang Semeru Jadi Pengingat Risiko yang Sering Diabaikan

20 Juni 2026 - 14:14 WIB

PLN Tegaskan Pencurian Kabel Tak Terkait Pemadaman Bergilir di Lumajang

19 Juni 2026 - 20:54 WIB

Keindahan Tumpak Sewu Diubah Jadi Karya Batik Khas Lumajang

19 Juni 2026 - 10:45 WIB

Tanpa Pangkas Layanan, WFH Lumajang Justru Hemat Rp 464 Juta

19 Juni 2026 - 09:55 WIB

Trending di Daerah