Lumajang, – Perusahaan rekaman Graha Suara Publishing (GSP) ingin mengambil peran lebih besar dalam membantu musisi lokal Lumajang menembus industri musik nasional.
Persoalan pendanaan dan kesempatan disebut masih menjadi kendala bagi sebagian musisi untuk mengembangkan karya mereka.
Langkah tersebut ditandai dengan perilisan single terbaru pencipta lagu asal Lumajang, Takim atau yang dikenal sebagai Cak Takim, berjudul Sopir.
Single itu dirilis dalam acara pers rilis di Pendopo Merlion Park, Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, Sabtu (29/8/2026) malam.
Lagu Sopir berada di bawah perusahaan rekaman Graha Suara Indonesia dengan GSP Publishing sebagai publishing online.
Direktur Graha Suara Publishing, Yuski, mengatakan banyak anak muda Lumajang memiliki potensi di bidang musik.
Namun, potensi tersebut belum selalu diikuti kesempatan untuk berkembang dan membawa karya mereka ke industri yang lebih luas.
“Anak Lumajang harus punya potensi. Anak muda, terutama yang main musik, hebat-hebat,” kata Yuski.
Menurut dia, salah satu persoalan yang dihadapi musisi lokal adalah belum adanya jembatan yang dapat membawa mereka dari tingkat lokal menuju kesempatan yang lebih besar. Selain itu, pendanaan juga menjadi salah satu kendala.
“Banyak musisi Lumajang terutama, mungkin mereka terbentur atas pendanaan, terbentur atas kesempatan,” ujarnya.
Karena itu, Yuski menyatakan GSP ingin menjadi bagian dari upaya membuka akses tersebut. Ia mengatakan perusahaan label musik dan publishing yang dimilikinya dapat menjadi salah satu ruang bagi musisi Lumajang untuk mengembangkan karya.
“InsyaAllah aku siap menjadi bempernya teman-teman anak musik Lumajang untuk bisa naik kelas,” ucap dia
Ia mengatakan dukungan tersebut juga dilandasi keinginan agar potensi anak muda di Lumajang tidak berhenti pada kemampuan bermusik saja.
“Diperlukan kesempatan dan dukungan agar karya mereka dapat memiliki ruang yang lebih luas,” jelasnya.
Sementara itu, Cak Takim mengatakan single Sopir memiliki kaitan dengan pengalaman hidupnya. Sebelum kembali aktif menciptakan lagu, ia mengaku memiliki dasar musik pop, tetapi sempat berhenti karena merasa jenuh.
“Pada saat itu, saya bekerja sebagai sopir. Saya mengemudikan truk untuk mengangkut pasir,” kata Cak Takim.
“Pekerjaan itu dijalaninya ketika cita-cita yang diinginkannya belum tercapai,” tambahnya.
Menurut Cak Takim, profesi sebagai sopir sebenarnya bukan bagian dari jiwa yang ingin dijalaninya. Namun pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup yang menginspirasi karya musiknya.
“Sebab, ketika musik Jawa dan Jawa pop mulai berkembang sekitar 2018 atau 2019, keinginan Cak Takim untuk kembali menciptakan lagu muncul,” ucapnya.
Ia kemudian mulai menuangkan gagasannya ke dalam lagu dan merekamnya.
“Dari situ, saya mulai memiliki gagasan untuk membuat lagu dan kemudian merekamnya. Lagu Sopir pun lahir dari pengalaman tersebut,” tuturnya.
Cak Takim mengatakan hingga kini masih menjalani pekerjaan sebagai sopir. Di sisi lain, ia juga terus menyimpan sejumlah karya musik.
“Sampai sekarang saya masih tetap menekuni pekerjaan saya sebagai sopir. Meski profesi saya seorang sopir, saya sudah memiliki banyak lagu, tiga di antaranya sudah rilis di GSP,” katanya.
Tinggalkan Balasan