Jejak Kejayaan Rempah Masih Hidup di Kebun Kapulaga Senduro - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Ratusan Pemain Mobile Legends dan Free Fire Bersaing dalam Kejurkab E-Sport Lumajang Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara

International · 29 Jul 2026 14:19 WIB ·

Jejak Kejayaan Rempah Masih Hidup di Kebun Kapulaga Senduro


 Jejak Kejayaan Rempah Masih Hidup di Kebun Kapulaga Senduro Perbesar

Lumajang, – Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Nusantara telah dikenal dunia sebagai negeri rempah. Pala, cengkih, lada, hingga kapulaga menjadi komoditas yang diperebutkan bangsa-bangsa Eropa sejak abad ke-15.

Kekayaan alam itulah yang mendorong Portugis, Spanyol, Belanda, hingga Inggris berlayar ke kepulauan ini, bahkan melahirkan monopoli perdagangan yang dijalankan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) selama ratusan tahun.

Berabad-abad kemudian, jejak kejayaan itu masih dapat ditemukan di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di kawasan berhawa sejuk tersebut, kapulaga tetap menjadi komoditas andalan masyarakat sekaligus bagian dari mata rantai perdagangan rempah Indonesia ke pasar internasional.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat dengan negara-negara seperti Vietnam dan India, para petani di Senduro tetap optimistis.

Mereka meyakini kualitas kapulaga yang tumbuh di lereng Semeru masih memiliki daya saing dan diminati pasar luar negeri.

Satimin, petani kapulaga asal Desa Senduro, mengatakan hasil panennya selama ini dijual kepada pengepul sebelum dikirim ke luar negeri.

Menurutnya, tingginya permintaan menjadi bukti bahwa kapulaga dari Senduro memiliki kualitas yang mampu bersaing.

“Kapulaga Senduro banyak diminati pasar internasional. Itu yang membuat kami tetap semangat menanam,” kata Satimin, Rabu (29/7/2026).

Pria yang telah menanam kapulaga sejak 2010 itu memilih tetap bertahan meski harga komoditas perkebunan kerap berfluktuasi. Baginya, keberhasilan bertani lebih ditentukan oleh ketelatenan daripada mengejar keuntungan sesaat.

“Yang penting telaten dan banyak bersyukur. Saya tidak mau berbicara soal harga. Intinya, saya ingin masyarakat Senduro tahu kalau mau usaha harus telaten, jangan sering membongkar tanaman hanya karena harga,” ujarnya.

Tidak hanya Satimin, Toyo, petani kapulaga asal Desa Kandangtepus, mengucapkan hal yang sama. Ia mengaku belum pernah merasakan kerugian selama membudidayakan tanaman rempah tersebut.

“Perawatannya mudah, panennya bisa dua kali setahun. Selama dirawat dengan baik, saya tidak pernah merasa rugi menanam kapulaga,” katanya.

Untuk diketahui, data perdagangan menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu eksportir rempah terbesar di dunia. Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor rempah meningkat sepanjang 2023, meski nilai ekspor mengalami tekanan akibat penurunan harga komoditas global.

Permintaan terhadap lada, vanili, kayu manis, cengkih, pala, kapulaga, jahe, dan kunyit tetap tinggi dari negara-negara seperti China, Amerika Serikat, India, Vietnam, Belanda, hingga sejumlah pasar nontradisional.

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Senduro Tak Hanya Menawarkan Alam, Kearifan Lokal Jadi Daya Tarik Wisatawan Mancanegara

28 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Bupati Lumajang Minta Perbankan Tambah ATM dan Layanan Penukaran Valuta Asing di Pronojiwo

22 Oktober 2026 - 10:38 WIB

Bupati Sebut Bonus Asian Games, Emas Rp50 Juta dan Perunggu Rp30 Juta

9 Oktober 2026 - 13:51 WIB

Atlet Lumajang Bawa Pulang Medali, Tantangan Berikutnya Menyiapkan Penerus

9 Oktober 2026 - 13:46 WIB

WNA Bisa Berpindah Antarwilayah, Imigrasi Minta Penginapan Lumajang Tak Lewatkan Pelaporan

28 September 2026 - 10:45 WIB

18 WNA Tercatat Tinggal di Lumajang, Imigrasi Sebut Jumlah Wisatawan Asing Sulit Dipastikan

28 September 2026 - 09:52 WIB

Trending di International