Kriminalisasi atau Ketidaktahuan Regulasi? PGRI Soroti Kasus Guru Honorer - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Daerah · 28 Feb 2026 13:05 WIB ·

Kriminalisasi atau Ketidaktahuan Regulasi? PGRI Soroti Kasus Guru Honorer


 Kriminalisasi atau Ketidaktahuan Regulasi? PGRI Soroti Kasus Guru Honorer Perbesar

Probolinggo, – Kasus hukum yang sempat menimpa MHH memantik perdebatan publik terkait perlindungan hukum bagi guru honorer.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Kabupaten Probolinggo, Asim, menyebut MHH tidak memiliki niat buruk, melainkan diduga kurang memahami regulasi larangan rangkap jabatan.

MHH sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Probolinggo karena merangkap sebagai pendamping desa.

Namun perkara tersebut dihentikan oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 20 Februari 2026, sehingga status hukumnya dinyatakan bebas.

Menurut Asim, persoalan ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan guru honorer. Ia menilai, banyak tenaga pendidik non-ASN berada dalam posisi rentan, baik secara ekonomi maupun secara hukum.

Dengan honor antara Rp 300.000 hingga Rp 1.250.000 per bulan, kebutuhan hidup yang terus meningkat kerap memaksa guru mencari penghasilan tambahan.

“Jika aturan melarang double job, saya harap teman-teman honorer berhati-hati dan harus memilih salah satu. Kami tidak ingin jasa guru yang sudah besar bagi bangsa ini justru berujung pada masalah hukum,” katanya, Sabtu (28/2/2026).

Asim menegaskan, persoalan ini bukan semata soal pelanggaran administratif, tetapi menyangkut realitas kesejahteraan.

Ketika regulasi tidak diiringi dengan jaminan penghasilan yang layak, potensi terjadinya pelanggaran—baik karena ketidaktahuan maupun keterpaksaan—menjadi lebih besar.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Balik Jerat Hukum MHH, Potret Getir Kesejahteraan Guru Honorer

28 Februari 2026 - 12:56 WIB

Sentuhan Kepedulian di Tengah Perjuangan Balita Penderita Jantung Bawaan

28 Februari 2026 - 12:45 WIB

Di Tengah Kritik, Bupati Lumajang Klaim Banyak Siswa Senang dengan Program MBG

27 Februari 2026 - 10:54 WIB

PPPK Paruh Waktu di Lumajang Terganjal THR, ASN Penuh Tetap Dapat Bonus Lebaran

26 Februari 2026 - 14:02 WIB

Relokasi Jadi Harga Mati, Pemkab Lumajang Siapkan 1,5 Hektare Lahan untuk Korban Lahar Gunung Semeru

26 Februari 2026 - 11:15 WIB

Menunggu Sinyal Pusat, THR ASN Lumajang Siap Cair Setelah Keputusan Nasional

26 Februari 2026 - 10:45 WIB

Trending di Daerah