Jember, – Suasana malam di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember, Senin (16/2/2026) dipenuhi lantunan ayat suci dan doa khusyuk dari ratusan jemaah Pondok Pesantren Mahfilud Duror.
Malam itu, para santri dan warga pondok pesantren melaksanakan salat Tarawih sebanyak 23 rakaat sebagai penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah, satu hari lebih awal dari ketetapan pemerintah.
Tarawih malam itu dimulai pukul 19.30 WIB, di halaman dan masjid ponpes yang dipenuhi santri dan warga. Lampu-lampu temaram dan suara merdu imam menciptakan suasana yang khidmat.
Para jemaah, dari berbagai usia, mengikuti rakaat demi rakaat dengan penuh konsentrasi, menandakan kesiapan mereka menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Yang menarik, penetapan awal puasa ini tidak menggunakan metode rukyatul hilal atau hisab modern yang biasa diterapkan oleh sebagian umat Islam di Indonesia.
Pengasuh ponpes, KH Ali Wafa Abdullah, menjelaskan bahwa mereka mengikuti metode perhitungan turun-temurun dari para kiai sepuh pondok pesantren.
“Kami menghitung lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya, dan enam hari setelah wukuf. Ini merupakan tradisi dari guru kami, KH Abdul Hamid, yang merujuk pada kitab Nushatul Majaalis wa Muntohabul Nafaais,” katanya, Selasa (17/2/2026).
Tradisi ini telah diterapkan sejak 1826, menunjukkan konsistensi Ponpes Mahfilud Duror menjaga warisan keilmuan dan spiritualitas yang telah diwariskan lintas generasi.
Menurut KH Ali Wafa, meski berbeda dengan metode hisab modern, cara ini tetap sah dan menjadi pedoman bagi jemaahnya.
“Yang salah itu yang tidak puasa. Yang berbeda, itu bagian dari keragaman dan rahmat Tuhan,” jelasnya.
Malam Tarawih juga diwarnai kegiatan pengajian dan tadarus Al-Qur’an. Santri dari berbagai tingkatan membaca surat-surat pendek hingga panjang secara bergantian, menambah kekhidmatan malam pertama Ramadan.
Selain aspek spiritual, perhitungan awal Ramadan ini juga menentukan durasi puasa yang genap 30 hari. KH Ali Wafa memperkirakan, jika metode ini diterapkan secara konsisten, pelaksanaan Idul Fitri di lingkungan pondok pesantren kemungkinan akan lebih awal dibanding masyarakat luas.
“Ini bukan soal siapa duluan, tapi soal kesungguhan menjalankan ibadah,” tambahnya.
Rasa kekhidmatan dan kebersamaan semakin terasa ketika lampu-lampu masjid menyala temaram, suara adzan malam berkumandang, dan aroma dupa ringan menebar di udara.
Bagi para santri, Tarawih bukan sekadar kewajiban, tapi juga sarana menguatkan iman, melatih disiplin, dan merasakan keberkahan bulan Ramadan yang sudah dirindukan.
Bagi masyarakat sekitar, tradisi perhitungan orang sepuh ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menghargai warisan spiritual dan menghormati perbedaan.
KH Ali Wafa menekankan bahwa perbedaan penetapan awal puasa merupakan kekayaan umat Islam. “Yang penting tetap menjaga ibadah, saling menghormati, dan menjalankan puasa dengan penuh khusyuk,” ujarnya.
Beberapa warga tua duduk di pinggir masjid, sesekali memberi petunjuk atau membimbing anak-anak dalam membaca doa dan bacaan rakaat.
“Malam ini sangat berkesan. Suasana khusyuk membuat hati tenteram,” kata Siti Aminah, salah seorang warga setempat.
Tinggalkan Balasan