Ujian Konsistensi Politik Lingkungan di Jember, Komitmen atau Sekadar Simbolik? - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
ASN Lumajang Tak Boleh Live Saat Jam Kerja: Aturan Baru Demi Wibawa Pelayanan Publik Pemdes Tempursari Pasang WiFi Gratis di Dusun Ketindan, Percepat Digitalisasi Desa Pemkab Lumajang Ajak Warga Sambut 2026 dengan Doa dan Kepedulian Sosial Istighotsah Akhir Tahun 2025, Bupati Lumajang Ajak Perbanyak Doa, Empati, dan Refleksi Diri Malam Natal di Lumajang, Bupati Titip Doa dan Tegaskan Komitmen Kerukunan

Politik · 19 Feb 2026 07:13 WIB ·

Ujian Konsistensi Politik Lingkungan di Jember, Komitmen atau Sekadar Simbolik?


 Ujian Konsistensi Politik Lingkungan di Jember, Komitmen atau Sekadar Simbolik? Perbesar

Jember, – Banjir yang kembali merendam 23 desa/kelurahan pada 12 Februari 2026 dan berdampak pada 7.445 warga tidak hanya menyisakan genangan dan lumpur, tetapi juga pertanyaan serius tentang konsistensi kebijakan lingkungan di Kabupaten Jember.

Setiap tahun, skenario serupa berulang, air meluap, bantuan darurat digelontorkan, lalu perbincangan mereda seiring surutnya genangan.

Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto, secara terbuka mengkritisi pola penanganan banjir yang dinilai masih bersifat reaktif.

“Sebetulnya yang kita harapkan itu bukan penanganan secara karikatif atau terjadi bencana lalu kemudian kita turun, tapi upaya penanganan secara preventif,” ujar Widarto, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, pendekatan yang hanya fokus pada bantuan darurat justru membuat beban anggaran semakin membengkak. Ia menilai biaya penanganan pascabencana jauh lebih besar dibanding investasi pencegahan di kawasan hulu.

“Biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar berkali-kali lipat ketika kita menunggu terjadinya bencana lalu kita tangani,” tegasnya.

Widarto juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan resapan air dan memperketat alih fungsi lahan. Ia bahkan kembali mendorong moratorium izin di daerah-daerah yang berfungsi sebagai penyangga air.

“Kami sejak awal konsisten menyampaikan soal hati-hati terhadap alih fungsi lahan. Harusnya dimoratorium. Resapan air harus terus dijaga,” katanya.

Secara geografis, Jember dikelilingi pegunungan seperti Gunung Argopuro dan Gunung Raung yang menjadi hulu berbagai aliran sungai. Kerusakan di kawasan tersebut berdampak langsung pada wilayah hilir yang selama ini menjadi langganan banjir.

“Kalau di hulunya rusak, maka limpahan air akan terus semakin besar ke hilir. Mulai dari wilayah kota, Rambipuji, Balung, Buluag, Puger, itu akan selalu mendapatkan limpahan air dari hulu kita,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jember, Widarto menyebut partainya telah menggerakkan kader untuk menanam pohon dan membersihkan sungai. Namun ia menegaskan bahwa gerakan tersebut harus diikuti kebijakan konkret dan konsisten di tingkat pemerintahan.

“Penanganan tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengantisipasi dengan cara menjaga alam kita,” tandasnya.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Oplah di Jember Diduga Asal Jadi, DPRD Soroti Bangunan Tak Berfungsi dan Data Tertutup

19 Februari 2026 - 16:31 WIB

Konflik Bupati-Wabup Jadi Evaluasi Sistem Pilkada, Wamendagri Usul Kepala Daerah Tanpa Wakil?

14 Februari 2026 - 18:36 WIB

Gubernur Jatim Diminta Turun Tangan Mediasi Konflik Kepala Daerah di Jember

14 Februari 2026 - 18:30 WIB

Regulasi DPRD Disorot, Anggota Dewan Tersangka Masih Terima Hak Keuangan

30 Januari 2026 - 08:47 WIB

Kursi Wakil Ketua DPRD Jember Kosong, NasDem Kirim Usulan ke DPP

30 Januari 2026 - 08:34 WIB

Imbas Kasus Korupsi Rp 5,6 M, Pimpinan DPRD Jember Tinggal Tiga Orang

30 Januari 2026 - 08:19 WIB

Trending di Politik