107 Titik Oplah Tak Berfungsi Optimal, DPRD Jember Desak Kementan Tinjau Ulang Program - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan

Politik · 20 Feb 2026 14:02 WIB ·

107 Titik Oplah Tak Berfungsi Optimal, DPRD Jember Desak Kementan Tinjau Ulang Program


 107 Titik Oplah Tak Berfungsi Optimal, DPRD Jember Desak Kementan Tinjau Ulang Program Perbesar

Jember, – Program optimalisasi lahan (oplah) dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI di Kabupaten Jember mendapat sorotan tajam dari Komisi B DPRD Jember.

Program yang mencakup 107 titik oplah melalui mekanisme anggaran swakelola bersama kelompok tani dinilai belum menunjukkan hasil yang jelas dan terukur.

Anggota Komisi B DPRD Jember, Suharto, menyatakan bahwa efektivitas program oplah belum dapat diukur secara rinci karena data keberhasilan dari tiap titik belum tersedia.

“Sebanyak 107 titik oplah yang dibangun melalui mekanisme anggaran swakelola belum memiliki data tingkat keberhasilan yang bisa ditunjukkan secara rinci,” katanya, Jumat (20/2/2026).

Bahkan, Kepala DTPHP Jember, Mochamad Djamil, tidak hadir dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi B DPRD Jember pada Rabu (18/2/2026).

Suharto menyebut hasil inspeksi mendadak (sidak) di tiga lokasi oplah pada Selasa (3/2/2026) menunjukkan pembangunan secara teknis belum berjalan maksimal.

“Contohnya di lokasi oplah di Desa Banjarsari, air dari tandon penampungan untuk pengairan sawah tidak bisa dimanfaatkan karena posisi penampung lebih rendah dari lahan sawah yang akan diairi,” ujarnya.

Menurut Suharto, kelompok tani sebenarnya berharap program yang bersumber dari APBN ini dapat mendukung program Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan.

Namun, tim teknis yang dilibatkan, termasuk dari Universitas Jember, seharusnya menyesuaikan perencanaan dengan kondisi lapangan agar program benar-benar berdampak pada peningkatan produksi pertanian.

“Perencanaan di atas kertas tidak cukup, harus disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan agar program oplah benar-benar bermanfaat bagi petani,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPMD Lumajang Ajukan Anggaran Pilkades untuk 2027, Tahapan Dimulai Enam Bulan Sebelumnya

11 Agustus 2026 - 10:37 WIB

Demokrat Lumajang Akui HUT Partai Jadi Momentum Panaskan Mesin Politik

7 Agustus 2026 - 13:15 WIB

Yudha Adji Kusuma: Kudatuli Menjadi Titik Balik Lahirnya Demokrasi Indonesia

27 Juli 2026 - 09:59 WIB

Supratman: Silaturahmi Jadi Ruang Satukan Visi Kader PDI Perjuangan

17 Juli 2026 - 08:51 WIB

Pemkab Lumajang Siapkan Rp 13 Miliar untuk Pilkades Serentak di 158 Desa pada 2027

2 Juli 2026 - 12:54 WIB

Gunung Kerinci, Bung Karno, dan Tafsir Perjalanan Politik di Jalur yang Menanjak

23 Juni 2026 - 10:27 WIB

Trending di Politik