51 Kebakaran Terjadi Selama September, Surabaya Waspada Musim Panas Ekstrem - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 9 Okt 2025 17:30 WIB ·

51 Kebakaran Terjadi Selama September, Surabaya Waspada Musim Panas Ekstrem


 51 Kebakaran Terjadi Selama September, Surabaya Waspada Musim Panas Ekstrem Perbesar

Surabaya, – Cuaca ekstrem dan kelalaian manusia menjadi kombinasi mematikan yang menyebabkan lonjakan kasus kebakaran di Surabaya. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mencatat, sepanjang September 2025 terjadi 51 kejadian kebakaran, jumlah yang meningkat signifikan dibanding bulan sebelumnya.

Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menyebutkan bahwa bulan September mencatat angka kebakaran tertinggi tahun ini. Faktor cuaca kering, suhu tinggi, dan angin kencang ditambah dengan kelalaian warga menjadi penyebab utama.

“Total 51 kejadian kami tangani selama bulan September. Ini merupakan dampak nyata dari musim panas yang sedang mencapai puncaknya,” ujar Laksita, Kamis (9/10/2025).

Dari total kejadian tersebut, 20 insiden terjadi di lahan terbuka, khususnya kebakaran alang-alang. Menurut Laksita, kondisi rumput yang sangat kering dan mudah terbakar menjadi titik rawan ketika ada pemicu sekecil apapun.

Baca juga:SR Diperiksa 9 Jam oleh Kejari Jember, Bongkar Dugaan Korupsi Rp 5,6 Miliar di DPRD

“Kondisi cuaca sangat panas, ditambah hembusan angin yang tinggi, membuat alang-alang menjadi sangat mudah terbakar. Begitu ada pemicu, apinya cepat sekali menyebar,” terangnya.

Ia menjelaskan, pemicu kebakaran di lahan terbuka umumnya melibatkan dua faktor: manusia dan alam. Faktor manusia seperti membakar sampah sembarangan masih sering ditemukan di lapangan.

“Begitu ada angin, daun kering atau rumput yang terbakar bisa terbang atau menggelinding, akhirnya memicu kebakaran di titik lain,” tambahnya.

Faktor alam juga tak kalah berbahaya. Ia menyebut fenomena efek lensa dari pecahan kaca di lahan kering bisa menyebabkan suhu terfokus yang memicu api, bahkan tanpa intervensi manusia.

Baca juga: DBHCHT Ringankan Modal Produksi, Petani Semangka Lumajang Dapat Bantuan Bibit dan Pupuk

Sementara itu, 12 kasus kebakaran terjadi di permukiman warga. Kelalaian penggunaan kompor, arus pendek listrik, dan pemakaian alat elektronik yang tidak sesuai standar menjadi penyebab utama.

“Kami imbau warga lebih waspada. Misalnya, jangan men-charge HP di atas kasur, atau menggunakan kabel kecil dan menumpuk sekring. Itu sangat berbahaya,” ujar Laksita.

Menghadapi situasi ini, DPKP Surabaya telah memangkas waktu tanggap (response time) menjadi 6,5 menit dari sebelumnya 7 menit, sebagai bentuk peningkatan layanan.

Sosialisasi juga digencarkan, termasuk ke PAUD dan kelompok PKK, untuk memperkenalkan edukasi pencegahan kebakaran sejak dini.

“Warga harus tahu bahwa api harus dipadamkan dalam tiga menit pertama. Jika tidak terkendali, segera hubungi 112,” tegas Laksita.

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Ingatkan Penambang Waspadai AMAK 25, Jangan Tunggu Alarm Berbunyi

20 Juni 2026 - 20:14 WIB

Luka Bakar Hampir Seluruh Tubuh, Penambang Semeru Jadi Pengingat Risiko yang Sering Diabaikan

20 Juni 2026 - 14:14 WIB

PLN Tegaskan Pencurian Kabel Tak Terkait Pemadaman Bergilir di Lumajang

19 Juni 2026 - 20:54 WIB

Keindahan Tumpak Sewu Diubah Jadi Karya Batik Khas Lumajang

19 Juni 2026 - 10:45 WIB

Tanpa Pangkas Layanan, WFH Lumajang Justru Hemat Rp 464 Juta

19 Juni 2026 - 09:55 WIB

Tanah Sitaan Diduga Bersertifikat Baru, Dokter Kandungan Dilaporkan ke Polisi

16 Juni 2026 - 20:28 WIB

Trending di Daerah