Lumajang, – Arak-arakan ogoh-ogoh dalam ritual pengerupukan bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki makna spiritual mendalam sebagai simbol pengusiran energi negatif agar tidak mengganggu pelaksanaan Hari Raya Nyepi.
Di kawasan Pure Argosari, Kandangan, Kandang Tepus, sebanyak 15 ogoh-ogoh diarak pada malam pengerupukan. Bentuknya yang menyeramkan dengan ekspresi garang dan ukuran besar sengaja dibuat untuk merepresentasikan sifat-sifat buruk dan energi negatif dalam kehidupan.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Budiono, menjelaskan ogoh-ogoh merupakan simbolisasi Bhuta Kala, yakni unsur-unsur negatif yang harus dinetralisir sebelum umat Hindu memasuki hari suci Nyepi.
“Ogoh-ogoh digambarkan menyeramkan karena melambangkan hal-hal yang bersifat negatif. Dengan diarak, diharapkan semua energi buruk dapat dinetralisir sehingga tidak mengganggu pelaksanaan ibadah,” katanya, Rabu (18/3/2026).
Ritual pengerupukan sendiri dilaksanakan pada malam hari, tepat sebelum umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian. Suasana malam yang dipenuhi iringan gamelan, cahaya obor, dan sorak masyarakat menambah nuansa sakral sekaligus semarak dalam prosesi tersebut.
“Sebelum pengerupukan, umat Hindu telah melalui tahapan Melasti dan Tawur Agung Kesange. Kedua ritual tersebut bertujuan untuk menyucikan diri, sarana upacara, serta alam semesta. Pengerupukan kemudian menjadi puncak penetralisir sebelum memasuki keheningan Nyepi,” ungkapnya.
Keesokan harinya, kata dia, umat Hindu akan menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yang meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).
“Dengan demikian, ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni atau hiburan semata, melainkan bagian penting dari rangkaian spiritual yang mengandung pesan mendalam tentang pengendalian diri, penyucian, dan keseimbangan antara manusia dan alam,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan