Lumajang, – Sejak matahari mulai menampakkan cahayanya, ratusan jemaah Muhammadiyah mulai memadati sekitar 50 titik pelaksanaan salat Idulfitri 1447 H secara serentak. Aktivitas pagi itu seolah menjadi perayaan tersendiri, penuh khidmat dan kekhidmatan suasana.
Salah satu titik yang menjadi pusat perhatian adalah Masjid PB Sudirman di Jalan Brantas, Kelurahan Jogoyudan. Halaman masjid dipenuhi jemaah yang mengenakan pakaian bersih dan rapi.
Suasana ramai namun tertib, anak-anak berlarian sebentar sebelum menempati tempat shalat, sementara orang tua menata karpet untuk barisan jamaah. Suara takbir menggema di udara, menandai datangnya hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga.
Bertindak sebagai penceramah, Ustaz Hadi Santoso dari Jember menyampaikan pesan mendalam tentang makna Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian jiwa.
“Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kembalinya manusia kepada fitrah, yakni kesucian asal dalam tauhid,” ujarnya.
“Setelah sebulan penuh berpuasa, kita diajak menyucikan jiwa dari dosa, menahan hawa nafsu, serta memperbaiki hubungan dengan Allah melalui kesalehan ritual dan dengan sesama manusia melalui kesalehan sosial, yang tercermin dalam perilaku yang lebih baik,” ungkapnya.
Suasana masjid terlihat khidmat. Beberapa jemaah menundukkan kepala, sesekali mengangguk sebagai bentuk penghayatan. Anak-anak dan remaja yang hadir tampak antusias mengikuti khutbah, sementara orang tua menatap penuh harap agar nilai-nilai yang disampaikan tertanam pada generasi muda.
Di sudut lain, seorang jemaah, Bapak Ahmad, mengaku tersentuh dengan tausiah yang menekankan hubungan sosial. “Bulan Ramadan membuat kita disiplin menahan diri, dan hari ini kita belajar bagaimana menyalurkan kesucian itu dalam kehidupan sehari-hari. Rasanya damai sekali,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak jauh dari lokasi utama, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang, Zainal Abidin, menekankan pentingnya toleransi. Ia mengingatkan warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas untuk saling menghormati, terutama jika terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal.
“Warga Muhammadiyah dan masyarakat kami ajak mengedepankan sikap saling menghormati, menjaga persatuan dan ukhuah di tengah perbedaan,” kata dia.
Tinggalkan Balasan