Lumajang, – Fluktuasi harga kambing di Kabupaten Lumajang tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pasokan, tetapi juga sangat bergantung pada akses pasar luar daerah. Kondisi ini semakin terasa ketika distribusi ternak mengalami hambatan, yang berdampak langsung pada melemahnya harga di tingkat lokal.
Permintaan dari sejumlah daerah seperti Surabaya, Malang hingga Bali selama ini menjadi penopang utama stabilitas harga, khususnya untuk kambing pedaging. Ketika arus distribusi berjalan lancar, harga cenderung stabil. Namun sebaliknya, saat permintaan luar daerah menurun, harga pun ikut tertekan.
Affan, pedagang kambing di Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, mengungkapkan peran pembeli luar daerah sangat krusial dalam menjaga perputaran pasar ternak.
“Kalau pembeli dari luar daerah sepi, harga langsung turun. Soalnya pasar lokal tidak cukup untuk menyerap semua stok,” katanya, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, kondisi tersebut saat ini mulai dirasakan, terutama pada kambing jenis gibas yang tidak memiliki jaringan pasar luas seperti kambing pedaging.
Sementara itu, Agus Setiawan, pedagang kambing dan domba di Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, menyampaikan ketergantungan terhadap pasar luar daerah menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha ternak.
“Selama ini memang banyak bergantung ke luar daerah. Kalau pengiriman lancar, harga ikut stabil. Tapi kalau tersendat, dampaknya langsung terasa di sini,” kata Agus.
Menurutnya, komoditas yang memiliki akses pasar lebih luas cenderung lebih bertahan terhadap fluktuasi harga.
“Sebaliknya, kambing yang hanya mengandalkan pasar lokal lebih rentan mengalami penurunan harga saat pasokan meningkat,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan