Dinkes Lumajang Kirim Sampel 105 Suspek Campak ke Laboratorium Kemenkes di Surabaya - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Kesehatan dan Olah Raga · 10 Apr 2026 11:45 WIB ·

Dinkes Lumajang Kirim Sampel 105 Suspek Campak ke Laboratorium Kemenkes di Surabaya


 Dinkes Lumajang Kirim Sampel 105 Suspek Campak ke Laboratorium Kemenkes di Surabaya Perbesar

Lumajang, – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang, mengirimkan sampel darah dari 105 kasus suspek campak ke laboratorium Kementerian Kesehatan di Surabaya untuk memastikan diagnosis.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, dr. Marshall, mengatakan ratusan kasus tersebut tercatat hingga pekan ke-14 tahun 2026 dan mayoritas menyerang bayi serta anak-anak.

“Yang diduga campak sampai sekarang, hingga minggu ke-14 ada 105 suspek. Mereka meliputi bayi dan anak,” kata Marshall, Jumat (10/4/2026).

Menurut dia, pemeriksaan laboratorium masih berlangsung dan hasilnya belum dapat dipastikan dalam waktu dekat karena jumlah sampel yang cukup banyak sehingga harus melalui antrean.

Ia menjelaskan, para pasien menunjukkan gejala khas campak, seperti demam dan munculnya ruam kemerahan pada kulit. Untuk memastikan penyakit tersebut, tenaga kesehatan melakukan pengambilan sampel darah.

“Mereka yang mengalami gejala itu, kami ambil sampel darahnya untuk kami periksa,” ujarnya.

Meski masih berstatus suspek, penanganan terhadap pasien dilakukan dengan standar seperti kasus campak positif. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengobatan sekaligus mencegah penyebaran penyakit.

Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan pelacakan di lingkungan tempat tinggal pasien guna mengantisipasi penularan lebih luas.

“Tenaga kesehatan akan melakukan kunjungan ke rumah pasien untuk melihat kemungkinan ada penderita lain. Jika ditemukan, akan dilakukan pengobatan dan upaya pencegahan, termasuk pembatasan aktivitas sementara,” kata Marshall.

Dinkes juga menyiapkan langkah imunisasi bagi anak-anak di sekitar lokasi kasus yang belum mendapatkan vaksin campak atau belum lengkap imunisasinya.

“Kami akan cek status imunisasi. Jika belum lengkap, dilakukan imunisasi rutin atau imunisasi kejar,” katanya.

Marshall menegaskan, imunisasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah penularan campak. Program tersebut telah menjadi bagian dari imunisasi rutin nasional.

“Imunisasi campak diberikan saat bayi usia 9 bulan, kemudian diulang pada usia 18 sampai 24 bulan, dan kembali saat anak kelas 1 SD,” jelasnya.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Awal 2026, Dinkes Lumajang Temukan 136 Kasus HIV Baru, Masih Menunggu Validasi

10 April 2026 - 08:21 WIB

PMI Lumajang Terapkan Sistem Siaga Darurat Titik Rawan Saat Arus Mudik Idulfitri 2026

19 Maret 2026 - 16:48 WIB

Demam dan Ruam Merah Belum Tentu Campak, Bisa Juga Penyakit Lain

16 Maret 2026 - 15:56 WIB

Kenali Fase Prodromal Campak, Gejala Awal yang Sering Tidak Disadari

16 Maret 2026 - 15:50 WIB

Waspada Penularan Penyakit, Cium Bayi Bisa Jadi Sarana Perpindahan Virus

16 Maret 2026 - 15:45 WIB

45 Kasus Suspek Campak Ditemukan di Lumajang, Hasil Laboratorium Masih Ditunggu

16 Maret 2026 - 15:37 WIB

Trending di Kesehatan dan Olah Raga