Lumajang, – Dampak abu vulkanik Gunung Semeru yang terus terjadi sejak awal 2026 tidak lagi terbatas pada satu komoditas.
Jika sebelumnya penurunan kualitas durian menjadi sorotan utama, kini gejala serupa mulai terlihat pada tanaman buah lain seperti pisang dan langsep.
Di tengah musim panen yang biasanya menjadi momen puncak bagi petani, situasi justru berbalik. Sejumlah tanaman tidak hanya mengalami penurunan kualitas buah, tetapi juga penurunan produktivitas.
Pada komoditas durian, banyak pohon dilaporkan tidak berbuah sama sekali. Jika pun berbuah, jumlahnya jauh lebih sedikit dengan kualitas yang menurun.
Lukman, petani durian asal Desa Senduro, merasakan langsung perubahan tersebut. Dari 17 pohon yang ia miliki, hanya sebagian kecil yang berbuah, itu pun dengan kualitas yang tidak seperti biasanya.
“Kalau sekarang, satu pohon paling hanya tujuh buah. Pohon lainnya tidak berbuah sama sekali. Rasanya juga hambar, tidak seperti biasanya,” kata Lukman, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, sebelum intensitas abu vulkanik meningkat, pohon duriannya tergolong produktif. Dalam satu hari panen, ia bisa menghasilkan lebih dari seratus buah dengan cita rasa khas pahit manis dan tekstur lembut. Kini, selain jumlah buah yang menurun drastis, perubahan juga terjadi pada warna dan tekstur daging buah.
“Sekarang warnanya agak bening, tidak seperti dulu,” ujarnya.
Namun persoalan tidak berhenti pada durian. Tanaman pisang yang selama ini dikenal sebagai komoditas yang relatif tahan terhadap kondisi lingkungan, kini juga menunjukkan perubahan kualitas.
Rasa manis yang biasanya menjadi ciri utama mulai berkurang, sementara tekstur buah tidak lagi sebaik sebelumnya.
Hal serupa terjadi pada langsep. Buah yang dikenal dengan rasa segar dan manis tersebut dilaporkan mengalami penurunan kualitas, baik dari segi rasa maupun tampilan.
Sutris, tengkulak durian asal Desa Kandangtepus, mengaku harus lebih selektif dalam membeli buah dari petani. Dalam kondisi seperti sekarang, ia menilai aktivitas kulak menjadi jauh lebih berisiko.
“Kalau sekarang kulak durian, tentu sangat rugi. Alternatifnya ya tetap kulak, tapi harus tahu kondisi buahnya. Kalau tidak tahu, lebih baik tidak usah,” kata Sutris.
Tinggalkan Balasan