Lumajang, – Abu vulkanik dari Gunung Semeru diduga turut memengaruhi produksi dan kualitas durian di Kabupaten Lumajang. Meski demikian, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat menilai faktor cuaca ekstrem tetap menjadi penyebab utama.
Kepala Bidang Hortikultura DKPP Lumajang, Hendra Suwandaru, mengatakan abu vulkanik berpotensi mengganggu proses fotosintesis pada tanaman.
“Secara logika, abu vulkanik bisa menutup permukaan daun sehingga proses fotosintesis tidak berjalan optimal,” katanya, Kamis (16/4/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan hingga proses pembuahan tanaman durian. Dalam beberapa kasus, tanaman bahkan perlu didorong dengan tambahan pupuk untuk membantu proses produksi.
Namun demikian, Hendra menegaskan bahwa faktor cuaca ekstrem memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kualitas buah. Perubahan suhu yang tidak menentu, termasuk kondisi malam yang terasa panas, dinilai berdampak pada proses pembentukan rasa durian.
“Cuaca ekstrem, terutama perubahan suhu dan kelembapan, sangat memengaruhi hasil buah. Itu yang paling terasa dampaknya,” kata dia.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang tidak stabil dapat menyebabkan kematangan buah tidak merata. Akibatnya, dalam satu buah durian bisa ditemukan perbedaan rasa, mulai dari manis hingga hambar.
Selain durian, dampak cuaca dan angin kencang juga dirasakan pada komoditas lain seperti pisang. Daun tanaman yang rusak akibat angin memengaruhi proses pertumbuhan buah.
“Kalau daun banyak yang sobek atau rusak, itu juga berpengaruh pada kualitas buah. Hasilnya bisa menurun, misalnya dari 10 kilogram menjadi 6 sampai 7 kilogram,” jelasnya.
Tinggalkan Balasan