Panen Melimpah, Pembeli Menghilang, Ironi Pisang di Desa Salak - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 20 Apr 2026 14:13 WIB ·

Panen Melimpah, Pembeli Menghilang, Ironi Pisang di Desa Salak


 Panen Melimpah, Pembeli Menghilang, Ironi Pisang di Desa Salak Perbesar

Lumajang, – Hasil panen yang melimpah semestinya menjadi kabar baik bagi petani. Namun di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, kondisi itu justru berbalik menjadi beban.

Di kebun-kebun warga, tandan pisang menggantung lebat. Produksi meningkat, tetapi pasar tak kunjung datang.

Sofyan, salah satu petani setempat, mengaku kesulitan menjual hasil panennya dalam jumlah besar. “Terlalu banyak barang, tapi tidak ada pembeli yang berani menampung,” katanya, Senin (20/4/2026).

Ia menyebut, dalam satu kali panen, pisang agung bisa mencapai 40 hingga 50 tandan. Sementara pisang mas berkisar 25-30 tandan dan pisang nangka sekitar 30-35 tandan. Jumlah itu, menurut dia, tidak sebanding dengan kemampuan pasar lokal dalam menyerap hasil produksi.
Harga di tingkat petani pun tidak bergerak.

“Untuk harga pisang mas dihargai sekitar Rp15 ribu per tandan, pisang nangka Rp20 ribu, dan pisang agung Rp25 ribu,” ungkapnya.

Angka tersebut, kata dia, jauh dari potensi nilai ekonomi yang kerap disebut dalam skema pasar modern atau kemitraan.
Kondisi ini memaksa petani menggantungkan penjualan pada pasar tradisional di wilayah sekitar, seperti Klakah dan Ranuyoso. Namun daya serap pasar tersebut terbatas dan tidak mampu menampung produksi dalam skala besar.

“Akibatnya, sebagian hasil panen berisiko tidak terserap optimal, bahkan terbuang sia-sia,” tuturnya.

Di sisi lain, informasi mengenai akses pasar yang lebih luas masih minim. Petani seperti Sofyan mengaku tidak memiliki jaringan dengan pembeli besar atau offtaker yang mampu menampung produksi secara berkelanjutan.

Situasi ini menunjukkan adanya celah dalam rantai distribusi hasil pertanian. “Produksi di tingkat hulu meningkat, tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan pasar di hilir,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut belum terintegrasinya sistem pertanian dari hulu ke hilir. Petani berjalan sendiri dalam menentukan komoditas, sementara akses pasar dan pendampingan belum merata.

“Kalau ada program yang bisa menyalurkan ke luar daerah atau ke pasar yang lebih besar, kami siap,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Berebut LPG 12 Kg, Pelaku Usaha vs Kebutuhan Dapur MBG di Lumajang

22 April 2026 - 17:02 WIB

Produksi Pisang Lumajang Diuji Serangan Penyakit Ganda yang Kian Meluas

22 April 2026 - 15:09 WIB

Musim Pancaroba Picu Serangan Tikus, Petani Lumajang Lindungi Jagung dengan Plastik

22 April 2026 - 14:21 WIB

Pendidikan Vokasi Jadi Fokus Kadin Lumajang Hadapi Tantangan Industri

21 April 2026 - 18:05 WIB

Kadin Jatim Dorong Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kerja Lima Tahun ke Depan

21 April 2026 - 17:56 WIB

Konsolidasi Kadin Lumajang Didorong Perkuat Daya Saing Daerah

21 April 2026 - 17:13 WIB

Trending di Daerah