Tompokerso Cup di Lumajang Dibuka dengan Genduren, Tradisi Desa yang Tetap Bertahan - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Kesehatan dan Olah Raga · 13 Mei 2026 18:34 WIB ·

Tompokerso Cup di Lumajang Dibuka dengan Genduren, Tradisi Desa yang Tetap Bertahan


 Tompokerso Cup di Lumajang Dibuka dengan Genduren, Tradisi Desa yang Tetap Bertahan Perbesar

Lumajang, – Riuh sepak bola di pedesaan rupanya tidak selalu identik dengan gol, sorak penonton, ataupun perebutan trofi juara.

Di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, sebuah turnamen sepak bola justru diawali dengan ritual sederhana yang masih bertahan hingga kini, genduren atau slametan bersama warga.

Tradisi itu kembali digelar menjelang pembukaan Tompokerso Cup, turnamen sepak bola antar-RW yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Bulan Bung Karno pada Juni mendatang.

Warga berkumpul di sekitar lapangan dengan duduk lesehan tanpa tenda. Mereka membawa aneka hidangan sederhana, lalu memanjatkan doa bersama sebelum pertandingan dimulai.

Suasana semacam itu masih mudah ditemui di sejumlah desa di Lumajang. Di tengah modernisasi hiburan masyarakat, tradisi genduren tetap dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan sosial warga.

Bagi masyarakat Senduro, sepak bola kampung bukan hanya pertandingan olahraga. Lapangan desa juga menjadi ruang pertemuan warga lintas usia, mulai anak-anak, pemuda, hingga orang tua yang ikut terlibat dalam persiapan kegiatan.

Ketua Komisi D DPRD Lumajang, Supratman, mengatakan slametan sengaja dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya yang sejak lama hidup di tengah masyarakat desa.

“Besok dimulai, sekarang slametan dalam rangka melestarikan budaya. Setiap ada kegiatan diawali genduren,” kata Supratman, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, tradisi genduren bukan sekadar seremoni pembuka kegiatan. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus doa bersama agar kegiatan berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Di sejumlah wilayah pedesaan Jawa, genduren masih menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat. Tradisi itu biasanya digelar menjelang hajatan, panen, pembangunan rumah, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Sementara itu, Kepala Desa Senduro, Farit, mengatakan pemerintah desa mendukung pelaksanaan Tompokerso Cup karena dinilai mampu mempererat hubungan sosial antara pemerintah desa dan masyarakat.

“Kami sebagai Pemerintah Desa Senduro mendukung penuh kegiatan ini, sekaligus menjaga hubungan antara pemerintah dengan masyarakat Senduro,” ujar Farit.

Turnamen Tompokerso Cup dijadwalkan berlangsung mulai 14 Mei 2026. Selain menjadi hiburan warga, kegiatan tersebut diharapkan tetap menjaga nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat desa di tengah perubahan zaman.

Artikel ini telah dibaca 85 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satu Jam di Lingkungan Warga, Bhabinkamtibmas Tompokersan Ajak Warga Cegah DBD dari Rumah

25 September 2026 - 10:05 WIB

192 Balita di Lumajang Terserang Pneumonia pada Agustus 2026

25 September 2026 - 09:02 WIB

Kasus ISPA Lumajang Turun Setelah April, tapi Juli Kembali Naik 4.821 Kasus

23 September 2026 - 09:48 WIB

Disabilitas Lampaui Batas, Ria Yulianti Bawa Harapan Lumajang ke Asian Para Games

13 September 2026 - 12:15 WIB

RSUD dr Haryoto: BPJS dan Umum Hanya Beda Cara Bayar, Bagaimana Memastikan Layanannya Setara?

4 September 2026 - 08:51 WIB

Anak Susah Makan hingga Takut Nasi, Allia Kids Buka Layanan Pendampingan di Lumajang

31 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Trending di Kesehatan dan Olah Raga