Lumajang, – Riuh sepak bola di pedesaan rupanya tidak selalu identik dengan gol, sorak penonton, ataupun perebutan trofi juara.
Di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, sebuah turnamen sepak bola justru diawali dengan ritual sederhana yang masih bertahan hingga kini, genduren atau slametan bersama warga.
Tradisi itu kembali digelar menjelang pembukaan Tompokerso Cup, turnamen sepak bola antar-RW yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Bulan Bung Karno pada Juni mendatang.
Warga berkumpul di sekitar lapangan dengan duduk lesehan tanpa tenda. Mereka membawa aneka hidangan sederhana, lalu memanjatkan doa bersama sebelum pertandingan dimulai.
Suasana semacam itu masih mudah ditemui di sejumlah desa di Lumajang. Di tengah modernisasi hiburan masyarakat, tradisi genduren tetap dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan sosial warga.
Bagi masyarakat Senduro, sepak bola kampung bukan hanya pertandingan olahraga. Lapangan desa juga menjadi ruang pertemuan warga lintas usia, mulai anak-anak, pemuda, hingga orang tua yang ikut terlibat dalam persiapan kegiatan.
Ketua Komisi D DPRD Lumajang, Supratman, mengatakan slametan sengaja dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya yang sejak lama hidup di tengah masyarakat desa.
“Besok dimulai, sekarang slametan dalam rangka melestarikan budaya. Setiap ada kegiatan diawali genduren,” kata Supratman, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, tradisi genduren bukan sekadar seremoni pembuka kegiatan. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus doa bersama agar kegiatan berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Di sejumlah wilayah pedesaan Jawa, genduren masih menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat. Tradisi itu biasanya digelar menjelang hajatan, panen, pembangunan rumah, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Sementara itu, Kepala Desa Senduro, Farit, mengatakan pemerintah desa mendukung pelaksanaan Tompokerso Cup karena dinilai mampu mempererat hubungan sosial antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Kami sebagai Pemerintah Desa Senduro mendukung penuh kegiatan ini, sekaligus menjaga hubungan antara pemerintah dengan masyarakat Senduro,” ujar Farit.
Turnamen Tompokerso Cup dijadwalkan berlangsung mulai 14 Mei 2026. Selain menjadi hiburan warga, kegiatan tersebut diharapkan tetap menjaga nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat desa di tengah perubahan zaman.
Tinggalkan Balasan