Gunung Kerinci, Bung Karno, dan Tafsir Perjalanan Politik di Jalur yang Menanjak - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung

Politik · 23 Jun 2026 10:27 WIB ·

Gunung Kerinci, Bung Karno, dan Tafsir Perjalanan Politik di Jalur yang Menanjak


 Gunung Kerinci, Bung Karno, dan Tafsir Perjalanan Politik di Jalur yang Menanjak Perbesar

Jatim, – Gunung Kerinci, dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, kembali menjadi ruang simbolik dalam peringatan Bulan Bung Karno 2026.
Pada 20–21 Juni 2026, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama kader muda melakukan pendakian ke puncak gunung yang juga dikenal sebagai gunung berapi tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara itu.

Dalam narasi yang disampaikan, pendakian tersebut tidak semata aktivitas fisik, melainkan bagian dari refleksi politik yang mengaitkan alam, sejarah, dan ideologi perjuangan.

Gunung Kerinci diposisikan sebagai simbol perjalanan yang menuntut keteguhan, kesabaran, dan konsistensi langkah.

“Setiap cita-cita besar selalu memerlukan keteguhan hati, kesabaran, dan napas perjuangan yang panjang,” katanya, saat dikutip pada Selasa (23/6/2026).

Pendakian yang berlangsung selama dua hari itu juga disebut bertepatan dengan haul ke-56 Bung Karno.

Momentum tersebut dimaknai sebagai pengingat terhadap warisan pemikiran Soekarno, terutama gagasan tentang keberpihakan kepada rakyat dan keberanian dalam menjaga arah perjuangan politik.

Dalam keterangan yang sama, gunung kerap dijadikan metafora perjalanan hidup dan politik. Semakin tinggi medan yang ditempuh, semakin luas pula pandangan yang diperoleh. Sebaliknya, semakin berat jalur yang dilalui, semakin kuat pula karakter yang ditempa.

“Gunung mengajarkan banyak hal. Semakin tinggi langkah yang ditempuh, semakin luas pandangan yang didapat. Semakin berat medan yang dihadapi, semakin kuat karakter yang dibentuk,” katanya.

Bulan Bung Karno sendiri setiap tahun diperingati sebagai ruang refleksi terhadap pemikiran dan warisan politik Soekarno.

Dalam konteks ini, pendakian Gunung Kerinci diposisikan sebagai bagian dari upaya simbolik untuk mengaitkan perjuangan politik dengan nilai-nilai keteguhan dan kesinambungan sejarah.

Dalam narasi lanjutan, Bung Karno disebut meninggalkan warisan pemikiran yang menekankan pentingnya keberpihakan kepada rakyat. Karena itu, jalan perjuangan politik dipahami sebagai proses yang menuntut keberanian untuk terus bergerak dan tidak berhenti pada satu titik pencapaian.

“Bung Karno pernah meninggalkan warisan yang sederhana tetapi mendalam, jangan pernah meninggalkan rakyat,” jelasnya.

Pendakian ke Gunung Kerinci juga dipahami sebagai pengingat bahwa setiap perjalanan politik tidak pernah berada di ruang datar. Ia selalu menanjak, dengan tantangan yang berbeda di setiap tahapannya.

“Jalan perjuangan memang menanjak. Karena itu dibutuhkan napas yang panjang, langkah yang mantap, dan keyakinan yang tidak mudah goyah,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Agus Yudha: Cinta Indonesia Harus Diwujudkan Melalui Kerja Nyata untuk Rakyat

14 Juni 2026 - 13:46 WIB

Efisiensi BBM, PKB Lumajang Apresiasi Larangan ASN Menggunakan Mobil Dinas

14 Juni 2026 - 09:31 WIB

Deni Wicaksono: Kombinasi Kader Lama dan Baru Jadi Modal PDIP Lumajang

13 Juni 2026 - 16:35 WIB

DPD PDIP Jatim Soroti Regenerasi Kader di Lumajang, Perempuan Capai 45 Persen

13 Juni 2026 - 16:05 WIB

Pelantikan PAC Jadi Panggung Dukungan PDIP untuk Indah-Yudha

13 Juni 2026 - 15:17 WIB

Pelantikan PAC Jadi Awal Konsolidasi PDIP Lumajang Menuju Pemilu 2029

13 Juni 2026 - 14:38 WIB

Trending di Politik