Lumajang, – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur, akan menggelar Karnaval Kabupaten pada 29 Agustus 2026.
Kegiatan ini akan diikuti 20 kecamatan dengan mengangkat tema sejarah dan budaya.
Kabupaten Lumajang memiliki 21 kecamatan. Namun, dalam pelaksanaan karnaval yang digelar pemerintah kabupaten, Kecamatan Tempursari tidak ikut serta.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan karnaval tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah serta kekayaan seni dan budaya Lumajang.
“Temanya sejarah dan budaya. Tidak boleh pakai kostum yang minim dan erotis, kan itu ada imbauan MUI, tidak boleh. Terus untuk Kecamatan Tempursari memang dikecualikan,” kata Indah, Senin (17/8/2026).
Menurut Indah, Lumajang memiliki berbagai kesenian tradisional yang dapat menjadi bagian dari pertunjukan karnaval. Di antaranya Topeng Kaliwungu, Jaran Kencak dan Tari Kopiyah.
“Banyak budaya dan seni budaya Lumajang. Ada Topeng Kaliwungu, ada Jaran Kencak, Tari Kopiyah. Itu kan seni budaya, juga hiburan untuk masyarakat,” katanya.
Bahkan, penyelenggaraan Karnaval Kabupaten juga merupakan respons atas antusiasme masyarakat. Menurut dia, banyak warga yang selama ini menanyakan kapan Lumajang kembali menggelar karnaval tingkat kabupaten.
Ia berharap konsep sejarah dan budaya yang digunakan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat ketika menggelar karnaval di lingkungan masing-masing.
“Saya ingin mencontohkan kepada masyarakat Lumajang yang mengadakan karnaval bahwa dengan karnaval yang bertema sejarah dan budaya ini juga sangat menarik, tidak perlu yang erotis-erotis,” kata dia.
Lanjut dia, konsep tersebut lebih ramah bagi anak-anak karena karnaval merupakan tontonan yang dapat dinikmati berbagai kelompok usia. Ia juga menyebut penggunaan kostum yang terlalu terbuka selama ini menjadi salah satu keluhan ibu-ibu.
Selain melestarikan budaya, Indah berharap karnaval memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Keramaian selama kegiatan dinilai dapat membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Yang paling berdampak itu ekonomi rakyat. UMKM itu nanti akan banyak. Di mana ada keramaian, di sana mereka akan berjualan,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan