Diskusi FGD Digelar, Sound Horeg di Malang Tetap Berjalan Sesuai Kesepakatan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 5 Jul 2025 19:26 WIB ·

Diskusi FGD Digelar, Sound Horeg di Malang Tetap Berjalan Sesuai Kesepakatan


 Diskusi FGD Digelar, Sound Horeg di Malang Tetap Berjalan Sesuai Kesepakatan Perbesar

Malang, – Di tengah polemik fatwa haram terhadap gelaran sound horeg yang muncul dari forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan, para pelaku usaha sound system di Kabupaten Malang memilih jalan dialog dan kesepahaman.

Paguyuban Sound Malang Bersatu menyatakan bahwa kegiatan sound horeg di wilayah mereka tetap dapat berjalan, selama mengacu pada aturan yang telah disepakati melalui forum diskusi bersama.

David Stefan, salah satu pengusaha sound system dari Blizzard Audio yang juga tergabung dalam Paguyuban Sound Malang Bersatu, menyampaikan bahwa pihaknya bersama berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan di Kabupaten Malang telah melangsungkan forum diskusi terarah atau Focus Group Discussion (FGD) untuk mencari titik temu dalam pelaksanaan sound horeg.

“Dalam FGD tersebut kami melibatkan semua kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, aparat keamanan, pemerintah desa hingga pelaku UMKM. Hasilnya, kami menyepakati beberapa aturan teknis agar kegiatan sound horeg tetap bisa berlangsung namun tidak menimbulkan keresahan,” ujar David, Sabtu (5/7/25).

Menurut David, yang selama ini hanya bertindak sebagai penyedia jasa sound system, kegiatan sound horeg sebenarnya memiliki banyak sisi positif jika dikelola dengan baik.

Ia mencontohkan, dari setiap penyelenggaraan acara, masyarakat bisa mendapatkan pemasukan dari pengelolaan parkir, sewa lahan, hingga meningkatnya omzet para pedagang kecil dan UMKM di sekitar lokasi acara.

“Kami ingin masyarakat juga melihat sisi positifnya. Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga turut mendukung perputaran roda ekonomi masyarakat lokal,” tambahnya.

Sebelumnya, Forum Satu Muharram 1447 H di Ponpes Besuk, Pasuruan, mengeluarkan fatwa haram terhadap sound horeg. Keputusan ini kemudian didukung oleh MUI Jawa Timur yang menilai proses pengambilan hukum oleh para kiai pesantren tersebut sudah sesuai kaidah dan metode yang benar.

Kendati demikian, David menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menentang fatwa tersebut, melainkan berusaha mencari jalan tengah agar budaya sound horeg tetap bisa berlangsung dengan tertib dan tidak melanggar norma sosial maupun agama.

“Kami terbuka terhadap masukan. Yang penting adalah komunikasi antara semua pihak tetap terjaga. Kalau memang ada pelanggaran, mari kita evaluasi bersama,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Pemuda Pancasila Lumajang Ucapkan Selamat atas Pelantikan Pengurus DPC Madas

23 Mei 2026 - 16:02 WIB

Surat DLH Dibantah Bupati, Koordinasi Pemkab Lumajang Dipertanyakan

23 Mei 2026 - 09:44 WIB

Baru Masa Tanam, Sawah di Lumajang Keburu Diterjang Banjir

21 Mei 2026 - 12:54 WIB

Pemkab Lumajang Patroli Cek Pemasangan CCTV dan PJU di Sukodono

20 Mei 2026 - 01:13 WIB

Curah Hujan Tinggi Picu Luapan Sungai di Biting, Penanganan Dimulai Awal Juni

18 Mei 2026 - 15:55 WIB

Bupati Lumajang Ingatkan Kades Hati-hati Kelola Pemerintahan, Inspektorat Disebut Jadi Pisau Pengawasan

18 Mei 2026 - 12:52 WIB

Trending di Daerah