Kondisi Kritis, Santri Korban Keracunan HCL di Lumajang, Biaya Perawatan Rp 1 Juta Per Hari - Lensa Warta

Menu ✖

Mode Gelap
Festival UMKM Meriahkan Gema Sholawat di Stadion Semeru Lumajang, Produk Lokal Jadi Sorotan Ribuan Jemaah Hadiri Gema Sholawat dan Tausiyah Kebangsaan di Stadion Semeru Lumajang Nobar Semifinal Piala Dunia 2026 Gratis di Lumajang, Warga Seru-seruan, UMKM Ikut Panen Peluang Bunda Indah Buka Popkab Lumajang 2026, Dorong Pelajar Bangun Mental Juara 98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas

Kesehatan dan Olah Raga · 30 Sep 2025 12:48 WIB ·

Kondisi Kritis, Santri Korban Keracunan HCL di Lumajang, Biaya Perawatan Rp 1 Juta Per Hari


 Kondisi Kritis, Santri Korban Keracunan HCL di Lumajang, Biaya Perawatan Rp 1 Juta Per Hari Perbesar

Lumajang, – Seorang santri di Kabupaten Lumajang, Dewangga Eza Naufal Al Yusen (13), kini tengah berjuang melawan kondisi kritis setelah mengalami keracunan cairan air keras jenis HCL (asam klorida).

Insiden tragis itu terjadi pada 10 Juli 2025 di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Tempeh, tempat Dewangga menuntut ilmu.

Akibat kejadian tersebut, organ pencernaan Dewangga mengalami luka serius dan permanen. Saat ini, ia tidak bisa lagi mencerna makanan seperti biasa dan hanya mampu bertahan hidup dengan mengonsumsi susu medis khusus sesuai anjuran dokter.

Baca juga: ASN Lumajang Harus Pahami Visi Kepala Daerah 

“Setelah kejadian, anak saya langsung muntah dan kondisinya terus memburuk. Ternyata dia meminum cairan HCL yang ditaruh ke dalam botol minuman oleh temannya,” kata Ratna Purwari (38), ibu Dewangga, Selasa (30/9/25).

Baca juga: Tujuh Rumah Terbakar di Jember, Kerugian Capai Rp250 Juta

Kronologi kejadian bermula saat seorang santri mengambil cairan dari gudang pondok yang berisi bahan bangunan, termasuk cairan HCL.

Cairan berbahaya itu lalu dituangkan ke dalam botol minuman kemasan dan diberikan kepada beberapa temannya, termasuk Dewangga. Dari tiga korban, hanya Dewangga yang mengalami dampak paling parah.

Berat badan Dewangga kini menyusut drastis hingga tinggal 24 kilogram. Selain harus menjalani pengobatan jangka panjang, Dewangga juga membutuhkan asupan susu khusus bernutrisi tinggi dan obat-obatan dengan biaya yang sangat tinggi.

“Biaya untuk susu dan pengobatan sekitar Rp 1 juta per hari, dan itu di luar tanggungan BPJS. Kami tidak bisa menanggung sendiri, jadi keluarga dan pesantren sepakat melakukan penggalangan dana,” kata Ahmad Syaifudin Amin, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren.

Artikel ini telah dibaca 55 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satu Jam di Lingkungan Warga, Bhabinkamtibmas Tompokersan Ajak Warga Cegah DBD dari Rumah

25 September 2026 - 10:05 WIB

192 Balita di Lumajang Terserang Pneumonia pada Agustus 2026

25 September 2026 - 09:02 WIB

Kasus ISPA Lumajang Turun Setelah April, tapi Juli Kembali Naik 4.821 Kasus

23 September 2026 - 09:48 WIB

Disabilitas Lampaui Batas, Ria Yulianti Bawa Harapan Lumajang ke Asian Para Games

13 September 2026 - 12:15 WIB

RSUD dr Haryoto: BPJS dan Umum Hanya Beda Cara Bayar, Bagaimana Memastikan Layanannya Setara?

4 September 2026 - 08:51 WIB

Anak Susah Makan hingga Takut Nasi, Allia Kids Buka Layanan Pendampingan di Lumajang

31 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Trending di Kesehatan dan Olah Raga