Ancaman Sanksi hingga Penutupan Usaha, DPRD Jember Tak Ingin THR Jadi Polemik Tahunan - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 1 Mar 2026 16:30 WIB ·

Ancaman Sanksi hingga Penutupan Usaha, DPRD Jember Tak Ingin THR Jadi Polemik Tahunan


 Ancaman Sanksi hingga Penutupan Usaha, DPRD Jember Tak Ingin THR Jadi Polemik Tahunan Perbesar

Jember, – Komisi D DPRD Jember melontarkan peringatan keras kepada perusahaan yang mencoba menghindari kewajiban membayar tunjangan hari raya (THR) kepada pekerja. Legislator menegaskan, sanksi tegas hingga rekomendasi penutupan usaha bisa ditempuh jika ditemukan pelanggaran.

Anggota Komisi D DPRD Jember, Hafidi, menyatakan polemik THR tak boleh terus berulang setiap menjelang Ramadan. Menurutnya, regulasi terkait pembayaran THR sudah jelas dan tidak membuka ruang tafsir.

“Ini bukan urusan banjir yang harus menunggu laporan. Ini hak dan kewajiban yang sudah baku dalam undang-undang. Hak buruh untuk mendapatkan THR. Apapun harus kita lakukan,” tegas Hafidi, Minggu (1/3/2026).

Ia menyampaikan, modus yang kerap muncul menjelang Ramadan, yakni pemberhentian sementara pekerja sebelum bulan puasa, lalu direkrut kembali setelah Lebaran. Praktik ini diduga dilakukan untuk menghindari kewajiban membayar THR.

Menurut Hafidi, pola semacam itu harus diantisipasi sejak dini. Ia meminta Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) tidak bersikap pasif dan menunggu aduan, melainkan proaktif melakukan pengawasan.

“Kalau ada perusahaan yang mengakali aturan, harus ada konsekuensi. Jangan sampai ini jadi kebiasaan tahunan,” ujarnya.

Komisi D bahkan mendorong Disnaker menerbitkan rekomendasi resmi kepada kepala daerah jika ditemukan pelanggaran. Sanksi administratif hingga penghentian operasional usaha dinilai perlu dipertimbangkan sebagai bentuk efek jera.

“Saya yakin ketika ada rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja dan pengawas, Pak Bupati akan berani mengambil langkah itu. Komisi D siap mengawal,” kata Hafidi.
Dari sisi pengawasan teknis, Hairudin selaku pengawas ketenagakerjaan dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur wilayah Jember mengeaskan kesiapannya untuk turun langsung ke lapangan bersama Komisi D. Pengawasan akan difokuskan pada perusahaan yang dinilai rawan melanggar ketentuan THR.

“Kita harus tegak lurus pada aturan. Kita punya regulasinya,” katanya.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PDI Perjuangan Dorong Solusi Aset Tak Terpakai Lewat Raperda Baru

6 Mei 2026 - 10:39 WIB

Optimalisasi Aset Daerah, DPRD Lumajang Targetkan PAD Meningkat

6 Mei 2026 - 10:31 WIB

PDI Perjuangan: Raperda GAKI Penting untuk Masa Depan Generasi Lumajang

6 Mei 2026 - 09:07 WIB

Fraksi PDI Perjuangan Dorong Perda GAKI, 40 Desa Mandiri Garam Jadi Dasar Penguatan

6 Mei 2026 - 08:34 WIB

Ratih Damayanti, Dorong Kesadaran Lingkungan Berbasis Keagamaan

5 Mei 2026 - 21:01 WIB

Bupati Lumajang Dorong Peran Organisasi Keagamaan Perkuat Ekonomi dan Sosial Umat

5 Mei 2026 - 19:01 WIB

Trending di Daerah