Banjir Belum Pulih, Aliansi BEM Jember Pertanyakan MoU Wisata Pantai Papuma - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Daerah · 20 Des 2025 13:08 WIB ·

Banjir Belum Pulih, Aliansi BEM Jember Pertanyakan MoU Wisata Pantai Papuma


 Banjir Belum Pulih, Aliansi BEM Jember Pertanyakan MoU Wisata Pantai Papuma Perbesar

Jember, – Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pengelolaan wisata Pantai Papuma oleh Pemerintah Kabupaten Jember menuai sorotan dari kalangan mahasiswa.

Aliansi BEM se-Jember mempertanyakan kebijakan tersebut karena dinilai dilakukan di tengah kondisi sosial-ekologis Jember yang belum pulih pascabencana banjir.

Secara administratif, MoU tersebut dipahami sebagai langkah penataan tata kelola destinasi wisata unggulan, mulai dari pembagian kewenangan, optimalisasi pendapatan daerah, hingga penguatan citra pariwisata Jember.

Namun, kebijakan itu dinilai belum selaras dengan kondisi riil masyarakat yang masih terdampak banjir di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data yang dihimpun, banjir di Kabupaten Jember berdampak pada 1.428 kepala keluarga. Bencana tersebut juga menyasar kelompok rentan, terdiri dari 94 lansia, 42 balita, tiga ibu hamil, serta 30 santri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Jember masih berada dalam fase pemulihan dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Koordinator Aliansi BEM se-Jember, Alfin Maulana, menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan sektor pariwisata, melainkan upaya mempertanyakan skala prioritas kebijakan pemerintah daerah.

“Kami tidak anti pariwisata dan tidak menolak MoU Papuma. Namun, hari ini Jember sedang menghadapi krisis pascabanjir. Yang dibutuhkan warga bukan seremoni, melainkan kebijakan pemulihan yang nyata, seperti perbaikan rumah, infrastruktur, dan perlindungan kelompok rentan,” ujar Alfin.

Ia menilai respons pemerintah daerah sejauh ini masih cenderung simbolik dan reaktif, seperti pembagian bantuan sembako pada malam hari. Menurutnya, langkah tersebut penting dalam fase darurat, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan struktural akibat banjir.

“Menyapa warga di dini hari tidak bisa memperbaiki rumah yang roboh, memulihkan akses jalan, atau menjamin banjir tidak terulang. Yang dibutuhkan adalah kebijakan jangka menengah dan panjang, terutama dalam tata kelola lingkungan dan tata ruang,” tambahnya.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Pemuda Pancasila Lumajang Ucapkan Selamat atas Pelantikan Pengurus DPC Madas

23 Mei 2026 - 16:02 WIB

Surat DLH Dibantah Bupati, Koordinasi Pemkab Lumajang Dipertanyakan

23 Mei 2026 - 09:44 WIB

Baru Masa Tanam, Sawah di Lumajang Keburu Diterjang Banjir

21 Mei 2026 - 12:54 WIB

Pemkab Lumajang Patroli Cek Pemasangan CCTV dan PJU di Sukodono

20 Mei 2026 - 01:13 WIB

Curah Hujan Tinggi Picu Luapan Sungai di Biting, Penanganan Dimulai Awal Juni

18 Mei 2026 - 15:55 WIB

Bupati Lumajang Ingatkan Kades Hati-hati Kelola Pemerintahan, Inspektorat Disebut Jadi Pisau Pengawasan

18 Mei 2026 - 12:52 WIB

Trending di Daerah