Lumajang, – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang menjadikan pengalaman penanganan kekeringan pada musim kemarau sebelumnya sebagai acuan menyusun strategi mitigasi tahun ini.
Salah satu wilayah yang kembali menjadi perhatian adalah Kecamatan Gucialit, yang selama beberapa tahun terakhir tercatat sebagai daerah dengan kebutuhan distribusi air bersih paling tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan pembaruan data terus dilakukan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
“Kami tidak ingin bergerak ketika masyarakat sudah kekurangan air bersih atau saat kebakaran sudah meluas. Karena itu, mitigasi kami lakukan sejak awal agar ketika puncak musim kemarau datang, pemerintah dan masyarakat sudah sama-sama siap,” katanya, Rabu (8/7/2026).
BPBD sebelumnya memetakan enam kecamatan sebagai wilayah prioritas antisipasi kekeringan, yakni Gucialit, Ranuyoso, Padang, Klakah, Kedungjajang, dan Senduro.
Dari hasil asesmen tersebut, sebanyak 19 desa diidentifikasi berpotensi mengalami kesulitan memperoleh air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Menurut Isnugroho, data tersebut menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi sekaligus menentukan kebutuhan penanganan di masing-masing wilayah. Karena itu, proses verifikasi terus dilakukan agar distribusi bantuan, termasuk dropping air bersih, tidak meleset dari sasaran.
Ia menambahkan, percepatan penanganan bencana juga bergantung pada keterlibatan masyarakat. Warga diminta segera melaporkan potensi kekeringan kepada pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, maupun langsung kepada BPBD agar asesmen dapat segera dilakukan.
“Bencana akan lebih cepat tertangani apabila semua pihak bergerak bersama. Warga dapat melapor kepada kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas maupun langsung kepada BPBD. Setelah laporan diterima, kami segera melakukan asesmen untuk menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Tinggalkan Balasan