BBTNBTS: Pendangkalan Ranu Pani Cerminan Interaksi Negatif Manusia dan Alam - Lensa Warta

Menu

Mode Gelap
98 PNS Lumajang Terima SK dan Diambil Sumpah, Bupati Tekankan Integritas Pantai Lumajang Padat Saat Kupatan, Perputaran Ekonomi Meningkat Bupati Lumajang: Kebersihan Pantai Jadi Kunci Wisata Berkelanjutan Cegah Sejak Dini, Bupati Lumajang Ajak Warga Rutin Periksa Kesehatan Jantung Tak Hanya Jaga di Darat, SAR Lumajang Turun ke Laut Amankan Wisata Lebaran

Pariwisata · 10 Okt 2025 09:15 WIB ·

BBTNBTS: Pendangkalan Ranu Pani Cerminan Interaksi Negatif Manusia dan Alam


 BBTNBTS: Pendangkalan Ranu Pani Cerminan Interaksi Negatif Manusia dan Alam Perbesar

Lumajang, – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) menyoroti penyusutan Danau Ranu Pani sebagai dampak nyata dari interaksi negatif antara manusia dan lingkungan.

Pendangkalan dan penyempitan danau yang terletak di kaki Gunung Semeru ini dinilai bukan hanya dipengaruhi faktor alam, tapi juga ulah manusia, terutama aktivitas pertanian di sekitar kawasan danau.

Kepala Bagian Tata Usaha BBTNBTS, Septi Eka Wardhani, menjelaskan sedimentasi akibat erosi tanah dari lahan pertanian warga menjadi penyebab utama menyusutnya luas badan air Danau Ranu Pani dari tahun ke tahun.

Baca juga:Khofifah Soroti Lumajang, Daerah Paling Berat Terdampak Pemangkasan Dana Pusat

“Fenomena ini merupakan hasil akumulatif dari sedimentasi yang bersumber dari erosi lahan pertanian di sekitar danau,” jelas Septi Jumat (10/10/2025).

Baca juga: Pemkot Surabaya Terapkan Skema Cicilan Proyek untuk Efisiensi Anggaran

Data BBTNBTS menunjukkan, pada 2004, luas badan air Danau Ranu Pani masih mencapai 5,9 hektar. Namun, pada 2016 menyusut menjadi 4,7 hektar, dan pada tahun 2025 ini hanya tersisa sekitar 3,4 hektar.

Artinya, dalam dua dekade terakhir, danau kehilangan lebih dari 2,5 hektar badan airnya. Pendangkalan terbesar terjadi dalam sembilan tahun terakhir (2016–2025), dengan penyusutan seluas 1,3 hektar, melampaui penyusutan pada periode 2004–2016 yang hanya 1,2 hektar.

“Ini bukan sekadar gejala alam, tapi juga cerminan interaksi negatif antara manusia dengan ekosistem alami yang rapuh,” tegas Septi.

Sebagai danau alami yang berada dalam kawasan konservasi dan juga menjadi pintu gerbang pendakian Gunung Semeru, Ranu Pani memiliki peran penting dalam ekosistem pegunungan.

Selain menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna, danau ini juga menyimpan nilai sosial, budaya, dan ekonomi, terutama bagi masyarakat sekitar yang menggantungkan hidup dari sektor wisata dan pertanian.

BBTNBTS mengimbau agar semua pihak, khususnya warga sekitar dan pengunjung, lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dan menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan untuk mencegah erosi dan sedimentasi lebih lanjut.

“Kami berharap ada kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait untuk menyelamatkan dan merehabilitasi Danau Ranu Pani sebelum kondisinya makin parah,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kelola Selokambang 10 Tahun, Pemkab Lumajang Tawarkan Rp 9,8 Miliar

5 Mei 2026 - 08:52 WIB

Indah Amperawati Persilakan Media Ungkap Kasus ASN Tanpa Batas: Silakan Tulis Apa Adanya

1 Mei 2026 - 15:48 WIB

Cegah Pungli, Aparat Gabungan Siaga di Jalur Rawan Tumpak Sewu

5 April 2026 - 12:23 WIB

Gerakan Indonesia Asri Bergulir di Pantai Bambang, Pemkab Lumajang Perkuat Komitmen Wisata Bersih

2 April 2026 - 15:28 WIB

Kapolres Lumajang Tegaskan Penanganan Pungli di Tempat Wisata, Laporkan Segera ke Polisi

29 Maret 2026 - 15:49 WIB

Tragedi Petir di Pantai Lumajang: 10 Wisatawan Tersambar, 1 Tewas, Kapolres Imbau Waspada

29 Maret 2026 - 15:19 WIB

Trending di Pariwisata